[CHAPTERED – 1/3] WHO’S THE WITCH

w2

 

Title : Who’s the Witch

Genre : Fantasy, Comedy, Romance

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Park Chanyeol, Bae Suzy

Author : Jichan

Author’s Note : Hai, kali ini author memutuskan buat bikin ff dengan genre fantasy. Bisa dibilang kaya anime-anime gitu deeeh, buehehehe.. semoga suka dan selamat membaca! 🙂

WARNING : Banyak sound effect berupa tulisan seperti ‘BRAK’ ‘KLIK’ ‘TAK’ dsb. Jadi gunakan imajinasi kalian yaa ^^

Chapter 1—

Seorang yeoja nampak tengah bersantai sambil menonton acara televisi kesukaannya. Dan dengan posisi tidak biasa yang biasa dia lakukan yaitu menonton dengan terbalik. Ia meletakkan kakinya ke sandaran sofa sementara tubuhnya membujur ke bawah di sofa dan kepala yang menggantung di kaki sofa. Rambut panjangnya yang lurus bergelombang dengan warna coklat itu ia biarkan dalam kondisi berantakan. Namanya Park Jiyeon. Seorang mahasiswi yang terbilang sangat biasa-biasa saja. Kecuali untuk catatan pelanggaran yang telah banyak ia perbuat di kampusnya. Gadis yang baru berumur 20 tahun tepat hari ini.

Sampai detik ini hari Minggunya terbilang sangat indah. Ya, hanya bermalas-malasan di rumahnya. Kebetulan sepupunya yang merupakan roommate nya itu sedang sibuk kencan dengan yeoja entah siapa.

TING TONG

Jiyeon langsung menatap ke arah pintu rumahnya dengan tatapan tajam seolah berkata siapa yang berani-beraninya mengganggu hari Minggu indahnya ini. Dan mau tak mau yeoja itu segera berjalan dengan malas menuju pintu rumahnya. Ia mengintip lewat lubang di pintunya. Dilihatnya seorang namja tampan tengah berdiri di depan rumahnya dengan mencurigakan. Apalagi di bahu namja itu ada seekor burung berwarna pink entah dari spesies apa. Yang jelas burung itu terlihat lebih besar dari ukuran burung pada umumnya, lalu paruhnya bengkok ke bawah sementara ada jambul berwarna hitam di kepalanya. Cantik.

CKLEK.

Mau tak mau akhirnya Jiyeon membuka pintu rumahnya. Ia menatap namja itu dengan penuh selidik. Tatapan matanya seperti memindai namja itu dari atas sampai bawah. Pakaiannya terbilang sangat formal dengan kemeja putih yang memiliki kerah tidak biasa, lalu celana hitam, jas hitam dan mantel selutut yang juga berwarna hitam. Aneh, sekarang kan musim panas.

“Em..ada apa kemari? Mencari Park Chanyeol? Kau temannya?” tanya Jiyeon dengan tatapan aneh. Namja itu menggeleng. Jiyeon menatapnya datar.

“Kalau begitu cari siapa? Ada perlu apa?” tanya Jiyeon masih berusaha ramah. Namja itu hanya menunjuk ke arahnya tanpa mengatakan sepatah katapun.

BRAK

Jiyeon langsung menutup pintu rumahnya. ‘Ada apa ini? Jangan-jangan dia itu pervert?’ pikir Jiyeon dalam hatinya. Matanya masih membulat karena bergidik ngeri. Ia lalu mengintip kembali lewat lubang pintunya, berharap mereka sudah pergi.

Tidak ada. Jiyeon menghela nafasnya lega. Ia lalu berjalan santai menuju ruang santai untuk melanjutkan acara nonton televisinya. Namun betapa terkejutnya ketika ia mendapati dua makhluk asing yang tadi ada di depan rumahnya kini dengan santainya melihat-lihat dalam rumahnya.

PLUK

Jiyeon melemparkan remote televisinya ke kepala namja itu. Namja itu langsung menatapnya dengan tatapan mengerikan. Jiyeon menelan ludahnya sendiri.

“Si..siapa kau… a.. apa.. yang mau kau… la..lakukan?” tanya Jiyeon dengan gemetaran. Ia lalu segera mengambil payung yang kebetulan tergeletak di dekat sofanya. Namun namja itu hanya berbalik dan melihat keluar jendela. Melihat kesempatan ini, Jiyeon langsung maju dan mengayunkan payungnya ke kepala namja itu.

“Kau akan menyesal jika melakukannya..” ucap namja itu. Jiyeon langsung menghentikan tangannya dan berdiri mematung. Namja itu berbalik dan menatapnya.

“Kami adalah utusan ibumu, Kim Taehee..” ucapnya serasa membungkuk padanya. Jiyeon menaikkan alisnya tak mengerti.

“Darimana kau tahu itu nama ibuku?” tanya Jiyeon masih dengan takut. Namja itu kemudian mengeluarkan selembar kertas dari jasnya dan memberikannya pada Jiyeon.

‘Hai Jiyeon, ini eomma.. Kim Taehee. Sudah lama rasanya. Oh ya, namja yang mengirimkan surat ini adalah Kim Myungsoo. Dia adalah utusan eomma. Lebih lanjut tanyakan langsung padanya. Dan, percayalah padanya. Tertanda, eomma mu yang cantik.’

Jiyeon menatap kertas itu tak percaya. Tanpa diduga yeoja itu langsung melayangkan tendangan ke namja itu. BUK. Tendangannya terlihat sangat kuat, sampai namja itu hampir kehilangan keseimbangannya.

“Yya! Dasar penipu tidak berbakat! Huh, baru tahu nama ibuku saja sudah berlagak. Lagipula biar ku beritahu ya, eomma ku itu sudah meninggalkan ku sejak aku bayi!” omel Jiyeon serius. Ia lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa.

“Kali ini ku biarkan kau pergi. Awas saja jika kalian mencoba menipu orang lain!” kata Jiyeon sambil menyilangkan kedua tangannya. Bukannya pergi, namja itu malah duduk disamping yeoja itu.

“Sudahlah, sana pulang ke rumahmu,” kata Jiyeon kesal.

“Kau gila? Sejak saat ini rumahku tepat berada disini. Ah, ya. Eomma mu memintaku untuk memberimu ini jika kau tak percaya,” kata namja itu sambil mengeluarkan sebuah liontin dengan foto dirinya saat bayi yang tengah digendong oleh seorang wanita cantik yang merupakan eommanya. Ia tahu sekali bahwa ini memang asli milik eomma nya.

Jiyeon mengambil liontin itu dan melihatnya dengan berkaca-kaca. Kenangan lama seolah kembali berputar di kepalanya. Saat-saat dimana ayahnya sekarat karena memiliki penyakit kronis dan cerita ayahnya sebelum meninggal tentang ibunya. Ayahnya bilang bahwa ibunya tidak meninggalkannya, malah selalu berada disisinya.

“Kalau begitu, dimana kamar kami?” tanya Myungsoo santai. Jiyeon melemparkan bantal sofa disampingnya ke arah namja itu. Dan dengan sigap Myungsoo menangkapnya.

“Kamar apanya! Yya, jangan kira aku langsung percaya padamu.”

SET

Tiba-tiba saja Myungsoo sudah berada di dekat Jiyeon. Tatapan mereka bertemu. Myungsoo menunjukkan smirknya.

“Kau sudah gila?!” bentak Jiyeon sambil meninju perut namja itu. Ia lalu menarik kerah belakang namja itu dan menyeretnya keluar rumahnya.

BRAK

Ia membanting pintu rumahnya lagi. Namun betapa terkejutnya ia karena melihat dua makhluk itu malah berjalan menuju kamarnya. Jiyeon menarik kerahnya lagi untuk mengusirnya. Dan ini sudah ia lakukan berulang kali.

BRUK

Jiyeon menjatuhkan dirinya di sofanya karena terlalu lelah berulang kali mengusir namja aneh itu dan tetap gagal. Sementara itu, Myungsoo asik membuka pintu ruangan seakan ini benar-benar menjadi rumah barunya. Setelah puas, namja itu ikut duduk disampingnya. Jiyeon menatapnya dengan tatapan tajam.

“Baiklah. Anggap aku percaya itu semua. Lalu kenapa utusan ibuku datang kemari?”

“Aku disuruh menjemputmu,” jawab Myungsoo.

‘Tuh kan benar, ini sepertinya motif penculikan terbaru. Ckk makin pintar juga,’ pikir Jiyeon. Padahal sebelumnya ia sempat percaya karena bukti liontin milik ibunya itu.

“Kemana? Memangnya aku harus mau pergi kesana? Aku juga punya hak untuk menolak,” kata Jiyeon.

“Hmm.. biar ku jelaskan. Aku dan ibumu bukan berasal dari dunia yang berbeda, dunia kami ada tepat diatas bumi dan tidak dapat dilihat secara langsung. Lebih tepatnya hanya kami yang dapat melihat dunia kami itu. Ibumu adalah salah satu penyihir tertinggi di dunia kami, namun sekitar 19 tahun yang lalu beliau kabur dan pergi ke bumi. Dan saat itulah ibumu bertemu dengan ayah mu dan lahir lah kau. Namun karena kau masih manusia, jadi ibumu tak bisa membawamu ke dunia kami. Dan walau begitu kami dapat terus memperhatikan kalian, manusia bumi..” jelas Myungsoo panjang lebar. Jiyeon hanya menatapnya seolah ada gumpalan awan yang menghalangi kerja otaknya.

“Dan aku harus menjemputmu saat umurmu dua puluh tahun. Ini dikarenakan identitasmu baru akan terlihat pada saat umurmu dua puluh tahun, apa kau memang manusia biasa atau penyihir,” tambahnya lagi.

“Jadi intinya adalah ibuku dan kau itu penyihir? Ayahku manusia biasa dan aku separuh manusia separuh penyihir?” tanya Jiyeon dengan tampang serius. Myungsoo mengangguk-angguk mantap.

“Pffft.. kau pikir aku percaya hal itu? Hahahhhah..” tawa Jiyeon langsung meledak sementara Myungsoo menatapnya datar dan beranjak dari duduknya.

“Ah, dan biar ku jelaskan. Berapa kalipun kau mau mengusirku, atau kau mau menelpon polisi atau berteriak tidak jelas, semua itu akan sia-sia..” kata Myungsoo sambil masuk ke dalam kamar.

Jiyeon langsung bangkit dari duduknya dan menarik Myungsoo untuk keluar dari kamarnya.

“Aku butuh waktu untuk berpikir, ehm, omonganmu benar-benar tidak masuk akal. Kamarmu ada di ujung jadi jangan masuk ke kamarku lagi,” kata Jiyeon dengan serius.

BRAK. Jiyeon menutup pintu kamarnya. Tubuhnya beringsut, air matanya menggenang di ujung matanya. Ia mengeluarkan liontin ibunya dan menatapnya nanar. Dan tak sengaja ia malah ketiduran.

Pukul Sembilan malam akhirnya Jiyeon terbangun karena suara berisik di rumahnya. Dengan panik ia langsung keluar dan mencari sumber suara tersebut.

“YYA!” teriak Jiyeon keras. Semua mata langsung tertuju pada Jiyeon. Jiyeon mengedipkan kedua matanya tak percaya, sementara banyak mata yang juga menatapnya tak percaya. Maksudnya semua orang adalah beberapa orang asing dan Kim Myungsoo dan Park Chanyeol, sepupu Jiyeon.

Chanyeol langsung datang menghampiri Jiyeon dan menyuruhnya duduk bersama mereka. Chanyeol berdeham kecil sambil melirik ke arah Jiyeon yang masih menggunakan kaos oblong serta celana pendeknya.

“Ehm, dan yang ini adalah sepupuku, Park Jiyeon. Haha.. sepertinya dia baru bangun tidur. Mungkin kelelahan karena bekerja,” ucap Chanyeol dengan canggung. Jiyeon membalas senyuman orang-orang yang menatapnya dengan senyum aneh itu.

“Aah, kau bekerja di hari Minggu juga?” tanya seorang pria yang berwajah sangat kalem itu. Jiyeon yang tadinya bingung segera mengangguk sambil tertawa kecil.

“Yya, kau tak bilang kalau sepupu dari ibumu ini juga akan tinggal disini,” bisik Chanyeol pada Jiyeon. Jiyeon hanya menghela nafasnya panjang.

“Myungsoo-ssi, kau begitu tampan..” ucap seorang yeoja yang nampak sudah mabuk. Wajahnya yang cantik nampak memerah. Sementara yeoja lainnya mulai mengaitkan lengannya ke lengan Myungsoo.

“Ayo kita menikah..” katanya. Myungsoo hanya tersenyum dengan wajah tampannya itu, seolah tak berdosa. Sementara beberapa namja lainnya mulai cemburu dengan kehadiran makhluk tampan bernama Myungsoo itu, termasuk Chanyeol.

Sementara itu Jiyeon justru memberikan tatapan seolah ingin membunuh namja itu sambil menenggak beberapa gelas bir. Suasana juga nampaknya semakin panas. Selain Jiyeon, Chanyeol juga nampak sudah sangat mabuk karena ia kesal yeoja yang ia sukai sejak dulu malah menggoda Myungsoo.

“Wah, kalian berdua sepertinya sudah sangat mabuk. Kalau begitu kami pulang saja dulu ya. Haha, sampai jumpa lagi, Chanyeol-ssi,” ucap si namja kalem itu sambil menarik beberapa orang lainnya untuk keluar dari rumah Chanyeol.

“Chanyeol-ssi, aku akan sering mampir kemari. Daah~ Kim Myungsoo-ssi..” ucap yeoja yang Chanyeol taksir itu.

KLIK.

Akhirnya mereka semua pulang. Berbeda dengan ekspresi Chanyeol yang tadi saat ia mati-matian kesal karena Myungsoo, sekarang wajahnya justru berseri-seri karena yeoja yang ia taksir akan sering ke rumahnya. Yah, walau bukan untuk menemuinya.

PLUK.

Jiyeon melempar sandal rumahnya ke kepala Myungsoo.

SET.

Myungsoo langsung mendekat dengan cepat. Sampai Jiyeon tak sempat berkedip dan Chanyeol masih sibuk menatap jendela. Dengan ekspresi sangat terkejut dan denyut jantung yang cepat, Jiyeon langsung memundurkan tubuhnya. Ditatapnya namja itu dengan kesal.

“Kenapa sih kau tak mau pergi! Ughh..” Secara tak sengaja Jiyeon malah memuntahi baju Myungsoo saat namja itu berusaha mendekat padanya. Jiyeon menatap Myungsoo dengan ekspresi takut. Namun tak disangka, Myungsoo justru mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap sudut bibir Jiyeon yang masih ada muntahannya.

Keren.

“Gwenchana, sekarang tidurlah..” ucapnya lembut. Dan dengan itu Jiyeon langsung tertidur dalam dekapan Myungsoo yang penuh muntah.

       SET

Jiyeon langsung bangun dari posisi tidurnya ke posisi duduk diatas kasurnya, Ia menatap sekelilingnya dan tertawa kecil.

“Ha ha, ternyata cuma mimpi. Aneh seka—“

“Pagi! Kau tak ada kuli—“

“AAAAAAAAAAHHH!!!” Jiyeon langsung berteriak panik begitu melihat namja yang dikiranya hanya ada dalam mimpinya dan kini malah hadir dihadapannya sambil memegang sebuah pisau.

“Ugh.. Jiyeon-ah, jangan berisik. Badanku sangat tidak enak, sepertinya aku tak akan masuk kuliah hari ini..” ucap Chanyeol sambil memegang perutnya dengan ekspresi lemah tak berdaya. Jiyeon langsung mendekat padanya dengan sedikit panik.

“Aish, kau ini. Sudah ku bilang jangan ikut minum-minum dengan sunbae-hoobae atau teman-teman mu itu. Apalagi di rumah kita. Ugh, lain kali tak akan ku bukakan pintu jika ini terjadi lagi,” omel Jiyeon sambil mendorong tubuh Chanyeol ke kamar namja itu.

“Sekarang kau istirahatlah. Ehm, atau hari ini aku bolos saja ya untuk merawatmu?” gumam Jiyeon.

“Tidak perlu. Ada aku! Aku akan merawatnya, jadi kau pergi saja ke kampusmu,” kata Myungsoo sambil membawakan semangkuk bubuk untuk Chanyeol.

“Aku juga sudah membuatkannya untukmu, itu ada di atas kompor di dapur,” kata Myungsoo.

“Kau memakai bajuku?” tanya Chanyeol dengan curiga. Myungsoo langsung mengangguk.

“Aku belum punya baju selain yang ku pakai kemarin. Mungkin hari ini aku akan pergi berbelanj—“

TUK.

Jiyeon melempar sendoknya ke kepala Myungsoo. Myungsoo menatapnya geram.

“Katanya kau mau merawat Chanyeol! Besok-besok saja perginya. Kau bisa memakai baju Chanyeol dulu,” omel Jiyeon. Myungsoo dan Chanyeol menatapnya datar.

“Kenapa harus aku?” cibir Chanyeol.

“Lalu bajuku huh?!”

GLEK.

Benar. Myungsoo dan Chanyeol hanya mengangguk setuju. Berat, memang berat untuk berdebat dengan yeoja keras kepala macamnya.

Jiyeon’s POV

Aneh. Dunia ini serasa menjadi aneh setelah kemunculan namja aneh yang mengaku sebagai penyihir di rumahku. Tapi jujur saja aku tahu apa yang dikatakannya bukan sepenuhnya bohong. Saat kecil ayahku banyak memberi tanda tentang ibuku, tapi aku yang terlalu bodoh sehingga tidak menyadarinya.

Tapi tapi tapi, apa semua penyihir tampan seperti dia? Kalau iya aku mau saja dibawa ke dunianya. Ha ha. Tapi tunggu, kalau semua penyihir tampan, mengapa ibuku justru memilih ayahku yang merupakan manusia?

Hmm, tidak penting. Mengapa aku memikirkan itu semua. Oh ya, kemarin Chanyeol benar-benar kurang ajar. Berani-beraninya dia membawa teman-temannya untuk pesta di rumahku. Ugh… mana aku sampai mabuk. Ini semua salah mereka berdua. Bahkan aku muntah! Hmm.. iya, aku memuntahi Myungsoo. Ha ha.. lalu? Ah tak ada yang ku ingat. Tunggu, bukankah bajuku berlumuran muntahanku? OMO! Bajuku ganti! Si..siapa yang menggantinya? Myungsoo? Aish, sudah ku duga dia memang pervert.

“Hoyy! Apasih siang-siang gini malah asik melamun,” ucap Krystal, salah satu sahabatku sejak SMA. Ia lalu ikut duduk di samping kananku. Sementara di kiriku, duduk Jieun yang asik memandang hamparan rumput beserta namja-namja tampan yang asik bermain sepak bola.

“Ugh, hidup memang aneh ya..” gumamku.

“Tentu saja aneh. Kau juga aneh. Apalagi dia,” kata Krystal sambil menunjuk Jieun. Aku terkekeh mendengarnya.

“Woah, bagaimana bisa namja yang berkeringat justru makin membuatnya keren..” gumam Jieun. Aku menyenggol lengannya sedikit agar ia sadar akan kehadiran kami.

“Wae?” tanyanya padaku. Aku hanya mengangkat bahuku.

“Yya, sore nanti kita ke Tteokbokki Wan ahjussi ya?” ajak Jieun. Aku langsung menatapnya dengan bersemangat dan menganggukkan kepalaku.

“Sepertinya aku tak bisa. Aku ada latihan dance untuk festival kampus kita seminggu lagi,” ucap Krystal. Aku menunjukkan ekpresi simpatiku dan menepuk-nepuk pundaknya.

“Kalian pergi saja..” katanya. Ah, jadi ingat. Bagaimana kabar si Myungsoo dan Chanyeol? Jangan-jangan ada keributan besar? Ugh..

“Tidak tidak. Aku harus segera pulang. Dah semua!” ucapku buru-buru meninggalkan mereka.

Aku langsung berlari sekuat tenaga untuk ke halte bus.

CTAK

Karena terlalu buru-buru, aku justru terantuk kakiku sendiri. Jadilah saat ini tubuhku terbaring di atas trotoar. Sangat mengenaskan. Jujur saja aku malu, namun rasa khawatirku lebih besar daripada rasa malu ku. Aku segera bangkit dan ikut masuk ke dalam bus yang sudah ada disana beberapa detik yang lalu. Semua mata tertuju padaku sambil menyembunyikan tawa mereka. Oh ayolah, aku sudah tahu kalian telah menjadikanku bahan candaan.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumahku. Aku segera menekan passwordku dengan buru-buru sampai-sampai aku salah mengetikkannya.

KLIK.

“Cepat sekali…” gumam Myungsoo yang ternyata membukakan pintu untukku. Aku langsung masuk ke rumah dan mengecek kondisi rumahku.

Bersih. Rapi. Bau masakan enak pula.

“Bagaimana? Aku cukup berguna, kan?” ucapnya bangga. Aku hanya menatapnya datar. Lalu ku hampiri kamar Chanyeol. Ternyata namja itu sedang tidur lelap. Aku kembali menutup pintu kamarnya.

“Wae? Kau pikir aku akan membawa kerusuhan di rumah ini?” tanya Myungsoo sambil menatapku intens. Ugh, tatapannya.

“Tidak tidak..” jawabku asal.

“Lututmu luka..” katanya.

“Ah, biarkan saja..” ucapku sambil mendudukkan diriku di sofa ruang santai. Sia-sia saja tadi aku berlari, dan kenapa juga aku harus sekhawatir ini? Ughh…

Baru saja aku hendak memejamkan mataku, sebuah kapas dingin mengenai luka di lututku dan membuatku langsung membuka mataku lebar-lebar karena rasa perih.

Myungsoo membersihkan lukaku dengan lembut, memberikannya obat merah dan membalutnya perlahan. Tidak tidak, jangan terpesona dengan penyihir ini Park Jiyeon.

“Wae? Kau terpesona? Sudah ku duga, aku memang mempesona..” katanya sambil tiba-tiba mendongakkan kepalanya. Membuat tatapan kami bertemu.

DEG.

“Kau gila?” ucapku sambil menendangnya dengan kakiku. Dia terjungkal ke belakang dan malah tertawa terbahak-bahak. Aku meninggalkannya dan masuk ke kamarku.

Dasar namja aneh.

Author’s POV

Sore ini sehabis Jiyeon kuliah ia sudah berjanji akan menuruti perintah Myungsoo bahwa dirinya harus berlatih untuk menjadi penyihir untuk memancing identitas dirinya sebagai penyihir atau manusia biasa. Jiyeon menunggunya di taman belakang rumah mereka sambil sesekali memainkan rambutnya.

“Jja! Hari ini kita akan latihan untuk mengontrol suatu benda,” katanya sambil menaruh sebuah sendok di atas kursi yang tengah Jiyeon duduki. Jiyeon menatap sendok itu dengan tatapan bingung.

“Kenapa bukan latihan terbang?” tanya Jiyeon sambil menarik sapu lidi yang sudah ada di samping kursinya. Myungsoo menghela nafasnya dan menatap Jiyeon datar.

“Kita bahkan belum tahu kau hanya manusia biasa atau penyihir,” katanya. Ia lalu berjongkok dan menatap sendok itu penuh fokus. Jiyeon mengikutinya dan berjongkok sambil menatapi sendok tersebut. Jiyeon langsung terpesona begitu melihat sendok tersebut berbengkok perlahan hanya dengan tatapan namja itu.

“Woah, kau bisa melakukannya? Bagaimana caranya?” tanya Jiyeon antusias. Myungsoo menghentikan konsentrasinya dan menatap Jiyeon lekat-lekat.

“Kau hanya perlu berkonsentrasi dan perintahkan apa yang mau kau lakukan pada sendok tersebut. Misalnya yang barusan, perintahmu cukup dengan ‘bengkokkan sendok’. Begitu..” jelasnya.

“Aah, kalau begitu aku akan membuatnya lurus,” kata Jiyeon bersemangat. Ia lalu menatap sendok tersebut lekat-lekat dan penuh konsentrasi.

Luruslah sendok.

Satu detik, dua detik, tiga detik, sepuluh detik, setengah menit, satu menit… tidak ada yang terjadi. Jiyeon menghela nafasnya dan duduk di samping sendok tersebut.

“Lihat kan! Aku hanya manusia biasa, kau bisa pergi sekarang,” ucap Jiyeon tak bersemangat.

“Aku kan sudah bilang kalau ini latihan. Lagipula tidak semua penyihir bisa melakukannya dalam percobaan pertamanya. Dan untuk kau, siapa tahu jika terus berlatih kau akan bisa melakukannya,” ucap Myungsoo lembut. Jiyeon menghela nafasnya lagi.

“Baiklah aku akan latihan lagi,” ucapnya kemudian. Ia lalu kembali ke posisinya tadi dan terus saja memelototi sendok itu. Sementara itu Myungsoo memutuskan untuk menunggunya di dalam rumah sambil membuat makan malam.

Tanpa sadar sore sudah berganti menjadi malam dan Jiyeon masih saja memelototi sendok tak berdosa itu. Sebuah ide terbersit di otaknya, ia kemudian berjalan mengendap-endap ke dapur.

Sial, kenapa ada Myungsoo di dapur.

Jiyeon yang masih bersembunyi malah makin terpesona dengan Myungsoo yang terlihat handal dalam memasak.

“Sampai kapan kau mau bersembunyi, Park Jiyeon?” ucap Myungsoo padanya. Padahal saat itu Myungsoo sedang membelakangi Jiyeon. Jiyeon tersigap dan langsung berdiri.

“Siapa juga yang bersembunyi,” elaknya sambil berjalan mendekat.

“Masak apa?” tanya Jiyeon.

“Hmm.. hanya nasi goreng kimchi..” katanya. Jiyeon mengangguk-angguk.

“Oh ya, bagaimana latihannya?”

“Eoh? Ah.. sudah. Dan aku berhasil, ha ha ha,” kata Jiyeon sambil menunjukkan sendok yang lurus pada namja itu.

“Ternyata kau bukan hanya tidak pandai menipu, kau juga bodoh..” ucap Myungsoo.

TUK.

Tanpa sadar Jiyeon langsung memukul kepala Myungsoo dengan sendok yang sedang ia pegang. Myungsoo langsung menatapnya dengan tatapan marah.

“Mian..” ucap Jiyeon sambil menurunkan sendoknya.

“Ya sudah. Latihan hari ini selesai,” kata Myungsoo. Jiyeon tersenyum senang. Akhirnya..

Myungsoo meletakkan nasi goreng kimchi nya di ruang makan. Sementara Jiyeon sudah sangat siap untuk menyantap makanan tersebut.

“Oh ya, dimana Park Chanyeol-ssi?” tanyanya.

“Aah, tak usah pedulikan dia. Paling sibuk dengan yeoja lain..” kata Jiyeon santai.

HAP. HAP. HAP.

Jiyeon memakan nasi goreng kimchi tersebut dengan lahapnya.

“Woah.. enak sekali..” ucapnya. Myungsoo hanya tersenyum mendengarnya.

“Keunde, apa saja yang penyihir bisa lakukan?” tanya Jiyeon ketika ia selesai makan.

“Semua orang memiliki kemampuan yang berbeda, walau ada hal dasar yang semua penyihir bisa. Contohnya seperti mengendalikan benda, semua penyihir pasti bisa melakukan ini..” jelasnya.

“Kalau kemampuan mu apa?”

“Aku? Aku bisa berpindah tempat dengan cepat dan memembus apapun..” katanya lagi.

“Aah… seperti saat kau menyusup masuk ke rumahku?”

“Yak! Aku tak menyusup. Itu perintah ibumu.”

“Kalau ibuku? Apa kemampuannya?”

“Ibumu bisa melihat semuanya..”

“Hm?”

“Ya, ibumu benar-benar bisa melihat semuanya..”

Hari ini Jiyeon tidak ada kuliah karena dosennya mendadak sakit, padahal ia sudah bersiap untuk berangkat.

BRUK

Ia menjatuhkan dirinya di atas sofa dan menyalakan televisinya. Padahal ia sedang malas di rumah dan ingin pergi keluar untuk melihat dunia luar.

“Tidak jadi berangkat?” tanya Myungsoo yang tengah memakai baju formal dengan celemek yang melapisinya.

“Yya! Myungsoo-ya, ayo kita belanja baju untukmu!” ucap Jiyeon semangat. Myungsoo menaikkan alis matanya.

“Sejak kapan kau menjadi sok akrab denganku?” tanyanya.

“Eyy, jangan begitu. Kajja kajja.” Jiyeon langsung menarik celemek Myungsoo sampai lepas dan melemparnya entah kemana. Lalu ia menarik namja itu dan segera berangkat.

Semua mata langsung tertuju pada Myungsoo. Jiyeon merasa sangat risih dengan pandangan orang lain. Ia lalu menarik Myungsoo masuk ke dalam sebuah butik.

“Keunde, apa kau punya uang?” bisik Jiyeon.

“Tentu saja,” kata namja itu sambil menunjukkan uang di saku jasnya yang lebih tepat disebut sebagai ‘beberapa gepok uang’.

Jiyeon menatap namja itu takjub. Ia lalu menyuruh namja itu duduk dan ia menyibukkan dirinya untuk memilih pakaian apa yang cocok untuk namja itu kenakan.

“Wah, dia sangat tampan..”

“Eoh, tapi kenapa dia pakai baju formal dan panas seperti itu di musim panas seperti ini ya?”

“Ayo kita cari tahu.”

Beberapa yeoja yang tadinya hanya menatap dan memperhatikan Myungsoo diam-diam kini mulai mendekat.

“Kau sangat tampan..” ucap seorang yeoja padanya.

“Aku tahu. Dan kau juga cantik,” kata Myungsoo sambil tersenyum.

“Omo omo dia memujiku..”

“Namaku Seolhyun, siapa namamu?” tanya yeoja lainnya.

“Nama—“

“Kajja! Kita pergi!” ucap Jiyeon sambil menarik Myungsoo dari kerumunan yeoja tersebut. Myungsoo hanya menuruti Jiyeon dan keluar dari butik tersebut.

Untuk beberapa saat Jiyeon tak sadar bahwa ia masih menarik tangan namja itu sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah café. Jiyeon melepas tangannya dan segera masuk ke dalam café tersebut. Myungsoo masih mengikutinya.

Jiyeon duduk di salah satu kursi yang ada di ujung dan menatap Myungsoo dengan kesal. Myungsoo menyusul dan duduk di depannya.

“Heol~ ternyata kau juga pintar merayu,” ucap Jiyeon sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Myungsoo menatapnya tak mengerti.

“Silahkan, mau pesan apa?” tanya seorang pelayan sambil memberikan menu pada mereka berdua.

“Ice Americano satu,” kata Myungsoo tanpa melihat menu tersebut. Jiyeon menatapnya bingung.

“Eoh aku juga,” kata Jiyeon.

“Baik, ice Americano nya dua ya. Ditunggu ya,” kata si pelayan dengan ramah.

Jiyeon terus menatap Myungsoo heran.

“Yya, darimana kau dapatkan uang sebanyak itu?” tanya Jiyeon penuh selidik.

“Aku? Itu uang pemberian ibumu.. dan harus ku gunakan dengan bijak,” katanya.

“Mwo? Kalau begitu itu uang ku dong?”

“Tidak. Ibumu memberi uang ini agar aku bisa bertahan hidup di dunia manusia,” katanya. Jiyeon mendengus kesal.

“Lalu kenapa sikapmu tidak seperti penyihir? Kenapa kau bisa dengan mudah bersikap seperti manusia biasa?”

“Aku kan pintar. Selain itu aku memang pintar membaca situasi dan beradaptasi. Wae? Kau terpesona dengan ku lagi?” tanyanya sambil tersenyum.

Jiyeon hanya menatapnya datar dan membuang mukanya.

Huh, kenapa aku memperlakukannya seperti orang bodoh tadi? Kan justru aku yang terlihat bodoh di depannya. Ugh, pasti ia tertawa dalam hatinya. Hhh, malu sekali..

“Ini pesanannya..” ucap seorang pelayan sambil memberikan dua gelas ice Americano pada mereka. Jiyeon segera menyesap minumannya dan kembali membuang mukanya.

Myungsoo menatapnya bingung. Ternyata benar, manusia tidak sesederhana penyihir, apalagi manusia perempuan. Ia tak bisa membaca yeoja itu.

“Kau marah padaku?” tanya Myungsoo akhirnya. Jiyeon terkejut dan menengok pada Myungsoo.

“Eoh, sangat..” kata Jiyeon sambil kembali meminum minumannya. Hendak iseng mencuri pandang pada Myungsoo, Jiyeon justru dibuat terkejut karena namja itu sedang menatapnya.

UHUK. UHUK.

Jiyeon tersedak minumannya sendiri. Myungsoo segera mengelap sudut bibir yeoja itu dengan sapu tangannya. Dan pandangan mereka kembali bertemu.

PLAK.

Jiyeon menghalau tangan Myungsoo secara refleks.

“Yak! Bukankah itu yang terkena muntahanku?!”

“Sudah ku cuci kok,” kata Myungsoo.

“Ugh, kenapa kau masih menyimpannya sih. Buang saja dan beli yang baru,” kata Jiyeon galak. Myungsoo hanya mengangguk-angguk dan berkata, “Ne..”

To be continued..

Advertisements

4 responses to “[CHAPTERED – 1/3] WHO’S THE WITCH

  1. Beuh,, jiyi galak gitu… slow ae jiy 😁😁
    Myung sabar ngadepin jiyi,, atau nahan marah tiap ngadepin jiyi.
    Kira² jiyi punya kekuatan sihir gx yaaa

Here you are

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s