(CHAPTERED – CHAPTER 3 – END) HOLIDAY HOSTAGE

hh

Judul : Holiday hostage // Genre  : Romance, life // Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Bae Suzy // Rating : PG-15 // Author : Jichan

–chapter 3–

Jiyeon’s POV

Nafasku tercekat memandang wajah Myungsoo yang terus mendekat ke arahku sementara pandanganku seperti terkunci pada matanya. DEG.

Aku mengalihkan kepalaku tepat saat bibirnya hampir mengenai bibirku. Ia kemudian memundurkan tubuhnya dan berjalan terlebih dahulu ke dalam restoran.

Di lain sisi aku sangat menyesal kenapa tak ku terima saja ciuman darinya, namun dilain sisi aku berpikir, apa Myungsoo memang hanya mempermainkannya sampai orang tuanya bisa menebusnya?

Aku kemudian turun dan segera masuk ke dalam restoran. Krystal dan Myungsoo nampak sudah terlebih dahulu makan tanpa menungguku. Aku kemudian duduk disamping Krystal sambil terus berusaha tak melihat ke arah Myungsoo.

Hening. Kami makan dalam diam. Bahkan sampai kami selesai dan sampai di rumah. Tak ada sapaan, Myungsoo hanya langsung masuk ke kamarnya, begitu pun aku. Hmmh, aku tahu ia pasti akan merasa canggung setelah kejadian tadi. Ehm, begitupun denganku.

BRUK.

Aku menjatuhkan diriku diatas kasurku tanpa melepas sepatu dan barang-barangku yang lain. Entah mengapa aku merasa lelah, jadi langsung saja aku melempar sepatuku ke sembarang tempat. Aku sudah tak peduli lagi.

Dan akupun tertidur.

Entah mengapa rasanya aku malas keluar kamar. Hari ini hari Minggu jadi ku harap aku bisa bermalas-malasan lebih lama. Ah, hari ini Myungsoo libur ya… apa yang harus ku lakukan saat bertemu dengannya? Mengapa jadi aku yang merasa bersalah padanya? Aish.

TOK TOK TOK

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku segera membukanya. Myungsoo. “Eomma dan abeoji sudah sampai di rumah, mereka menunggumu di ruang santai,” ucapnya tanpa memandang ke arah ku. Aku paham betul dengan sikapnya itu. Tapi tunggu, lalu apa dia menyukaiku?

GREP.

Aku menahan tangannya saat ia hendak pergi begitu saja. “Myungsoo-ssi..” panggilku. Ia tetap bergeming dan enggan membalikkan tubuhnya.

“Mian, yang kemarin hanyalah kesalahan,” ucapnya dingin. Aku merasakan udara dingin saat namja itu mengatakannya. Jadi.. ia tak menyukaiku?

Harusnya aku biasa saja kan? Kenapa aku malah merasa sedih dan kecewa? Aku menghela nafas berat sambil mengikutinya dari belakang.

Ku lihat Ny. Kim dan Tn. Kim sudah terlebih dahulu duduk di salah satu kursi di ruang santai. Jadi hem.. ada apa ya kira-kira. Setelah melemparkan senyum pada mereka, akupun duduk disamping Myungsoo.

“Jiyeon-ah, appa mu sudah membayar lunas hutang-hutangnya..” ucap Tn. Kim. Aku sedikit terkejut. Ini sungguh diluar perkiraanku. Ku kira orang tuaku sudah benar-benar membuangku. Lalu, bagaimana dengan perjodohan ini?

Aku kemudian menatap Ny. Kim yang justru menatapku kecewa. “Jadi, kau sudah boleh kembali ke Paris..” ucapnya. Oke, apa ini artinya aku diusir atau justru aku yang pergi begitu saja? Sebenarnya aku ingin menatap Myungsoo, tapi aku terlalu takut.

Myungsoo kemudian pergi begitu saja saat percakapan kami selesai. Aura dingin masih memancar dari dirinya. Apa tak ada yang bisa ku lakukan untuk menebus perasaan bersalahku ini?

Setelah kedua orang tua Myungsoo pergi, aku pun segera pergi ke taman belakang. Aku duduk dikursi taman dan menghela nafas berat. Kenapa aku jadi merasa sedih? Bukankah ini yang kau mau, Park Jiyeon.

DRRT..

Telpon dari eomma. “Ne, yeoboseyo, eomma?”

“Eoh Jiyeon-ah, kau sudah bisa kembali kesini! Huhu, maafkan eomma dan appa mu ini Jiyeon-ah..” katanya.

“…”

“Jiyeon-ah..” kali ini appa yang memegang teleponnya. Aku tersenyum, sejujurnya aku merindukan mereka.

“Kami tidak sejahat itu kok sampai menjualmu.. Kau bisa segera pulang kemari Jiyeon-ah..” ucap Appa.

“Yya! Park Jiyeon! Kalau kau tetap ingin tinggal disana juga tak apa! Lagian namja itu baik, tampan, dan kaya kan?!” kali ini ku dengar suara Yoona eonni berteriak. Aku jadi teringat percakapanku dengan eonni dulu.

“Tidak tidak, kau harus pulang Jiyeon-ah!” teriak eomma.

“Geurae.. kalau begitu sudah dulu ne..” ucapku sambil memutus hubungan. Berat. Rasanya berat meninggalkan rumah ini. Padahal aku baru beberapa hari disini, tapi mengapa seakan aku menyimpan banyak kenangan disini?

“Jiyeon-ah..” panggil Ny. Kim padaku. Aku segera menengok ke arahnya. Tatapannya jelas terlihat sedih. Ia kemudian duduk disampingku. Lagi-lagi ia menggenggam kedua tanganku dengan tangannya. Dan lagi-lagi perasaan hangat itu.

“Jiyeon-ah..” panggilnya lagi.

“Ne, eomma..” jawabku. Ia terus memandangku dan aku balik menatapnya dengan pandangan teduh.

“Tak bisakah kau tetap tinggal disini, eoh? Apa tak ada yang kau sukai disini? Tak bisakah kau—“

“EOMMA!” teriak Myungsoo keras. Aku cukup terkejut dengan kedatangannya. Ia menatap tajam kearah eommanya.

“Tapi Myung—“

“Sudahlah, eomma. Yeoja itu hanya tinggal disini untuk jaminan hutang ayahnya. Dia tak ada bedanya dengan yeoja lainnya,” DEG. Kenapa perasaanku sakit. Apalagi saat ia menyebutku dengan ‘yeoja itu’ dan bahkan ia mengatakan bahwa aku tak ada bedanya dengan yeoja lainnya.

Myungsoo kemudian membawa eommanya masuk ke dalam rumahnya. Screw this. Aku segera masuk ke dalam kamar dan menyalakan ponselku untuk memesan tiket ke Paris besok. Entahlah, tatapan dingin Myungsoo membuatku makin bertekad kembali ke Paris.

Author’s POV

Pagi ini Jiyeon sudah menyiapkan semuanya, penerbangannya jam Sembilan pagi ini jadi ia sudah harus berangkat karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Dari rumah keluarga Kim ke bandara memang membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Jiyeon berjalan keluar kamarnya sembali menenteng koper, tas, serta jaketnya. Tiba-tiba Myungsoo mengambil kopernya dari belakangnya tanpa Jiyeon sadari sebelumnya. Tangan mereka bersentuhan saat Myungsoo mengambilnya, membuat Jiyeon menghentikan langkahnya dan menengok ke belakangnya. Namun Myungsoo langsung berjalan begitu saja, tak memperdulikan Jiyeon yang terus menatapnya.

“Jiyeon-ah..” panggil Ny. Kim sambil menatapnya nanar. Jiyeon kemudian memeluk Ny. Kim sambil menepuknya perlahan.

“Mianhae..” ucap Jiyeon kemudian. Mendengar kata barusan, tangis Ny. Kim pun pecah, ia juga mempererat pelukannya.

“Yeobo.. sudahlah. Kita masih bisa mencari pendamping yang lain untuk Myungsoo..” ucap Tn. Kim sambil melepaskan Ny. Kim dari Jiyeon. Myungsoo kemudian masuk kembali ke dalam rumah sambil berkata, “Sebaiknya kita berangkat sekarang.” Jiyeon pun memberikan hormatnya pada Ny. Kim dan Tn. Kim baru pergi menyusul Myungsoo yang sudah berjalan terlebih dahulu ke mobilnya.

Lagi-lagi suasana sunyi senyap di mobil itu. Jiyeon masih dengan gugup memandang kearah luar kaca mobil di depannya, sementara Myungsoo terlihat mengendarai mobilnya dengan sangat serius. Ada kalanya JIyeon seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi buru-buru ia mengatupkan kembali mulutnya.

Merekapun akhirnya sampai di bandara. Myungsoo segera menurunkan koper Jiyeon. Jiyeon langsung menyambutnya dan menggeser koper ke arahnya.

BRUK.

Myungsoo menutup bagasinya. Jiyeon kemudian memandang ke arah Myungsoo, tapi namja itu sepertinya sangat enggan menatapnya. “Aku harus bekerja, sampai disini saja aku mengantarmu,” kata Myungsoo.

“Geurae..” jawab Jiyeon. Dan saat Myungsoo hendak berjalan kembali ke mobilnya, Jiyeon menahan bajunya. “Mian.. mianhae..” ucapnya yang lebih seperti bisikan.

“Mwoga?” tanya namja itu tanpa membalikkan tubuhnya, ternyata ia masih bisa mendengar bisikan Jiyeon tadi.

“…..” Jiyeon sendiri seperti tak bisa menjawab pertanyaan Myungsoo barusan. Rasanya ingin ia tumpahkan semuanya, tapi ia justru terus menahannya.

“Dwaesso. Kehadiranmu yang baru seminggu tentu bukan apa-apa dibandingkan dengan kehadiran yeoja lain yang juga dijodohkan denganku. Kanda,” ucap Myungsoo seraya melanjutkan langkahnya menuju mobilnya. Jiyeon menatap nanar mobil Myungsoo yang terus menjauh.

“Geurae, aku hanyalah yeoja yang bisa diganti dengan yeoja lain baginya..” gumamnya.

“Huwaaaa, Jiyeon-ah!” panggil eomma Jiyeon saat Jiyeon sampai di rumahnya. Eomma nya kemudian langsung memeluk anaknya itu. Appa nya yang tadinya juga sibuk membaca koran juga langsung menghampiri Jiyeon dan memeluknya.

“Ige mwoya, seperti teletubies saja,” ucap Nayoung saat melewati mereka. Namun eomma nya langsung menariknya agar ikut berpelukan dengan mereka.

“Aaakk.. eomma!” protesnya.

“Wah wah, jadi kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali? Disanakan ada pangeran impianmu,” cibir Yoona saat melihat Jiyeon. Menyadari keberadaan Yoona, Jiyeon langsung melepas pelukan dari orang tuanya itu dan menghambur ke Yoona, memeluknya.

“Aniya!” teriaknya.

“Tcih, eomma dan appa tega sekali menjualku!” kata Jiyeon kesal.

“Mianhae, anggap saja kau sedang liburan, eoh? Tapi kenapa kau pulang begitu cepat? Bukankah disana rumahnya sangat besar? Lalu ku dengar anak-anaknya juga tampan,” kata eommanya. Kini mereka semua duduk diruang santai, mengharapkan adanya cerita seru dari Jiyeon.

“Jangan-jangan eonni diusir,” kata Nayoung tiba-tiba. Tapi mereka merasa itu bisa jadi alasan yang masuk akal. Lalu mereka memandang Jiyeon, menutut jawaban.

“Aniya! Ini karena eomma dan appa tak memberitahuku dulu tentang rencana kalian! Aku kan takut, jangan-jangan aku benar-benar dijual,” kata Jiyeon.

“Eyy, kami tidak sejahat itu Jiyeon-ah,” ucap appanya. Jiyeon hanya tersenyum simpul.

“Lagipula siapa tahu kau bisa benar-benar berjodoh dengan salah satu pewaris perusahaan terkenal itu,” ucap Yoona santai. Jiyeon kemudian menyikut eonninya itu sambil berkata, “Eonni jangan mengatakan hal yang sembarangan begitu.”

“Ya sudah aku mau ke kamar, aku lelah..” ucap Jiyeon sambil pergi ke kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Ia lalu menghela nafasnya berat.

DRRT..

Kau sudah sampai, Jiyeon-ah? – Mina

Kau sampai jam berapa? – Minah

Aku baru sampai – Jiyeon

Wah wah, aku tak mengira kau akan secepat ini kembali ke Paris – Mina

Eoh, apa ada sesuatu yang terjadi? – Minah

Tidak. Salahkan orang tuaku karena menjadikanku jaminan – Jiyeon

Jadi ada masalah apa? – Minah

Yya, sudah Jiyeon bilang dia tidak ada masalah – Mina

Memangnya kau percaya begitu saja? Jelas-jelas Jiyeon ini baru saja bercerita dia berkencan dengan Kim Byungsoo.” – Minah

Namanya Kim Myungsoo dan kami tidak berkencan. – Jiyeon

Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi kami – Minah

Jiyeon kemudian menurunkan ponselnya dan langsung menjatuhkan dirinya di kasur kesayangannya. Rasanya sudah lama, padahal baru sekitar seminggu.

Merasa sudah tak sanggup memendamnya, Jiyeonpun mengambil kembali ponselnya dan mengetikkan sesuatu pada kedua temannya itu.

Temui aku di bar xx – Jiyeon

Dua orang wanita yang tampak lumayan mirip itu masuk ke dalam sebuah bar. Mereka mengedarkan pandangan mereka, mencari seseorang.

“Disana,” ucap salah seorang wanita itu. Mereka kemudian menghampiri Jiyeon yang sudah terlihat sangat mabuk. Ia duduk disalah satu sofa dengan ditemani beberapa botol bir.

“Gila, sudah berapa banyak kau minum?”

“Eoh, Minah!” panggil Jiyeon sambil memeluk salah satu wanita itu.

“Minaa!” panggil Jiyeon sambil melepas pelukan Minah. Ia kemudian kembali meneguk bir di gelasnya.

“Kalian mau? Hari ini biar aku yang bayar! Aku sedang bahagia!” katanya dengan lantang. Mina dan Minah tampak  bertukar pandang. Mereka kemudian duduk disamping Jiyeon.

“Hmmm..” hanya suara gumaman yang Jiyeon keluarkan dari mulutnya sedari tadi. Padahal Mina dan Minah sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Sudah ku bilang, pasti ada sesuatu,” bisik Minah pada Mina.

“Eo? Aniya! Tidak ada apapun! Tidak ada apapun! Aku bahagia karena ternyata orang tuaku tidak sejahat itu sampai menjualku! Aku juga bahagia karena sudah bisa kembali ke Paris! Dan aku bahaaagia sekali bisa bertemu dengan kalian,” kata Jiyeon lagi. Ia kembali menuangkan bir di gelasnya, dan karena ia sudah sangat mabuk, birnya tumpah kemana-mana.

“Berhentilah minum, Jiyeon-ah..” kata Mina sambil merebut botol bir yang tadi Jiyeon pegang.

“Yya! Kenapa kalian malah melarangku?! Sudah ku bilang hari ini biar aku yang bayar. Ayo kalian juga minum!” kata Jiyeon protes. Ia lalu merebut kembali botol bir dari tangan Mina dan menuangkannya ke tiga gelas. Ia kemudian menyuruh kedua temannya itu agar ikut meminumnya. Dan mau tak mau, Mina dan Minah pun meneguknya.

Beberapa menit kemudian,

“Yya! Sudah ku bilang aku yang akan membayarnya!” teriak Jiyeon pada kedua temannya itu.

“Mwo? Kau suruh aku bayar? Aku tak punya uang tahu!” teriak Minah.

“Sudahlah kalian, jangan berebut begitu.. aku tak akan membayarnya kok..” ucap Mina. Dan begitulah, mereka bertiga malah sama-sama mabuk.

“AISH! Kenapa sih tak minta bayarin si pangeranmu itu, eoh?!” teriak Minah pada Jiyeon. Jiyeon menghentikan gerakannya yang sedang menuang bir ke gelasnya itu begitu mendengar perkataan Minah.

“TIDAK! TIDAK AKAN! Dia bilang keberadaanku yang hanya seminggu di rumahnya itu bukanlah apa-apa disbanding keberadaan yeoja lain yang pernah dijodohkan dengannya!” teriak Jiyeon, membuat Minah dan Mina berhenti mengoceh sendiri. Minah menatapnya iba.

“Mwo? Kenapa dia jadi jahat seperti itu!” teriaknya.

“Bahkan ayahnya juga bilang bahwa aku bisa diganti dengan yeoja lainnya!” teriak Jiyeon lagi. Hik..hik..hik… isakan Jiyeon mulai terdengar. Mina kemudian segera menepuk-nepuk punggung Jiyeon.

“Kenapa aku bisa menyukainya dalam waktu seminggu… wae… “ isak Jiyeon. Minah dan Mina kemudian memeluk Jiyeon bersamaan.

“Uggghh.. semua namja memang sama saja! Mereka tidak baik untuk kita!” teriak Minah.

“Aku masih normal!” teriak Mina.

“Tidak.. dia tidak jahat… Aku lah wanita jahat! Aku wanita jahat!” teriak Jiyeon dengan ekspresi sedih. Air matanya masih menempel diwajahnya.

“Kalau kau jahat, kami juga jahat!” teriak Mina.

“Huhuhu, kenapa.. kenapa… kenapa aku malah menolak ciumannya..” bisik Jiyeon masih dengan menangis. Minah kemudian menatapnya dengan tatapan tajam.

“MWO?! YYA MICHEOSSI?!” teriaknya sambil melemparkan pukulan-pukulan ke punggung Jiyeon.

“Hiks.. aku.. hanya.. tak tahu… dia.. baginya.. aku hanyalah yeoja yang bisa diganti kapanpun,” isaknya sambil terus menerima pukulan dari Minah.

Sementara itu, disalah satu bar di Korea Selatan. Myungsoo meletakkan kepalanya diatas meja bar sambil sesekali bergumam tak jelas. Tak lama kemudian seorang yeoja yang tak lain adalah Suzy, datang menghampirinya.

“Yya, Kim Myungsoo. Ada masalah apa sampai kau mabuk berat seperti ini,” kata Suzy. Setelah membayar bir yang Myungsoo minum, yeoja itu memapah Myungsoo menuju mobilnya.

“Aih, beratnya..” kata Suzy saat mereka hampir masuk ke mobilnya. Namun Myungsoo segera melepas rangkulan Suzy dan terjatuh di trotoar.

“Yya, Kim Myungsoo. Kau sudah sangat mabuk, biar aku antar kau ke rumah. Ah, ani. Bisa-bisa orang tuamu khawatir..” Suzy kemudian kembali mengangkat Myungsoo dan menaruhnya dikursi belakang dengan posisi tiduran. Kemudian Suzy berlari ke kursi depannya dan mengemudikan mobilnya itu.

Tak lama kemudian mereka sampai di depan sebuah apartemen. Suzy kembali memapah namja itu dengan susah payah, Akhirnya mereka sampai di apartemen Suzy. Suzy menaruh Myungsoo di sofanya begitu saja.

“Suzy-ah..” panggil Myungsoo saat Suzy tengah mengambil air minum di dapurnya, Ia menengok sebentar, dan setelah gelasnya terisi penuh, ia menyuruh Myungsoo untuk meminumnya.

Myungsoo duduk dan menerima air mineral itu. Suzy duduk disampingnya sambil terus menatap wajah Myungsoo.

“Sebenarnya ada masalah apa sampai-sampai kau bersikap seperti ini? Ada masalah dikantor?” tanya Suzy. Myungsoo menggeleng.

“Hmmh.. lalu ada apa?” tanyanya lagi. Namun Myungsoo masih bungkam, matanya pun masih tertutup. Setelah meminum airnya, ia menyandarkan kepalanya di sofa tersebut.

“Oh ya, ku dengar dari Krystal kalau Jiyeon sudah kembali ke Paris,” kata Suzy kemudian. Myungsoo masih diam.

“Aku sudah melakukan apa yang biasa ku lakukan pada yeoja-yeoja yang dijodohkan denganmu, begini-begini aku masih peduli pada sahabarku,” katanya kemudian. Myungsoo masih saja diam.

“Aku menyukainya..” ucap Myungsoo masih dengan posisi tadi.

“MWO?” Suzy membelalakkan matanya tak percaya.

“…”

“Jadi bisakah kau tidak menyebut namanya lagi?” ucap Myungsoo. Suzy pun terdiam. Dalam hatinya ia bimbang, apa dia harus mengatakannya pada Myungsoo?

Ia kemudian menggeleng, ia tak mau sahabat satu-satunya itu membencinya.

“Myungsoo-ah, tanggal 7 nanti eomma dan appa mau ke Paris..” DEG. Begitu mendengar kata Paris, ia langsung teringat dengan Park Jiyeon. Padahal ini sudah setahun lebih ia tak pernah bertemu bahkan berkomunikasi dengan yeoja itu.

“Eonni nya Jiyeon menikah, kau mau ikut datang?” tanya eommanya. Myungsoo nampak berpikir sejenak. Ia kemudian menggeleng dan pergi ke kamarnya begitu saja.

“Yeobo, bagaimana ini.. Myungsoo sudah menolak mentah-mentah semua calon istri yang kita ajukan..” kata Ny. Kim pada Tn. Kim.

KREEK.

Krystal membuka pintu kamar Myungsoo, dicarinya oppanya itu. Sepertinya oppa nya sedang di kamar mandi, Krystalpun menunggu diatas kasur oppanya sambil memilah foto-foto yang baru ia cetak.

“Wae Krystal-ah?” tanya Myungsoo saat keluar dari kamar mandinya. Krystal kemudian menyuruh oppanya untuk ikut naik ke kasur.

“Oppa, aku mencetaknya tadi. Aku bahkan hampir lupa kalau saja aku tidak beberes kamar ku dan menemukan kamera oppa yang sudah lama tak dipakai ini,” katanya. Pandangan Myungsoo langsung terkunci pada sebuah fotonya, Suzy, dan juga Jiyeon.

“Ini foto saat kita ke Namsan Tower bersama Jiyeon eonni. Keunde oppa, mianhae..” ucap Krystal. Myungsoo menatapnya bingung.

“Keuge, harusnya aku tak memaksa oppa untuk mengajakku ke Namsan Tower saat oppa hendak pergi dengan Jiyeon eonni,” katanya merasa bersalah. Myungsoo hanya menggeleng.

“Dan sebenarnya aku tak berniat mengajak Suzy eonni, tapi aku tak enak padanya. Masa aku melarangnya.. lagipula ku pikir oppa akan curi-curi kesempatan buat kabur berduaan bersama Jiyeon eonni sehingga aku tidak sendirian disana…tapi ternyata oppa bukan orang modus…” kata Krystal lagi. Myungsoo tersenyum simpul.

“Sudahlah, itu sudah satu tahun yang lalu..” kata Myungsoo sambil mengelus kepala Krystal.

“Tapi oppa sampai sekarang belum bisa melupakannya kan..”

“…”

“Dan Oppa bilang Jiyeon eonni yang menolak oppa, kan? Tapi kenapa aku sering melihat Jiyeon eonni terus memandang ke oppa? Bahkan di foto ini..” kata Krystal sembari menunjukkan foto saat Jiyeon tengah melihat ke wajah Myungsoo yang tersenyum ke arah kamera.

“…”

“Myungsoo-ah, ada Suzy di ruang tamu,” ucap eomma Myungsoo padanya. Myungsoo pun keluar kamar dan menghampiri yeoja itu. Ia kemudian duduk dihadapan yeoja itu.

“Yya, Kim Myungsoo. Jangan jadi namja tak bertanggung jawab,” kata Suzy sambil menatapnya tajam. Myungsoo memandangnya tak mengerti.

“Kau kan sudah janji akan menemaniku mencari hadiah untuk Minho oppa,” ucap Suzy dengan kesal. Myungsoo kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan hanya melempar senyum haha hehe ke Suzy.

“Sepertinya kau lupa,” kata Suzy masih kesal.

“Ani ani, aku ganti dulu,” kata Myungsoo sambil buru-buru masuk ke dalam rumahnya lagi.

“Bagaimana dengan ini? Ah, atau ini?” tanya Suzy sambil memegang dua buah sepatu yang hanya memiliki perbedaan sedikit.

“Yya! Ada apa sih? Dari tadi kau melamun saja. Jawab aku dong..” kata Suzy pada Myungsoo. Myungsoo pun segera tersadar dari lamunannya. Ia menggeleng sambil berlagak memperhatikan kedua sepatu itu dengan seksama.

“Uffhh.. pilihan yang sulit Suzy-ah.. dua-duanya memiliki daya tarik masing-masing,” katanya. Suzy kemudian mengangguk-angguk.

“Hmmh, ya sudah kau beli yang ini saja,” katanya sambil memandang sepatu di tangan kanannya.

Setelah lama berbelanja, merekapun memilih untuk makan siang disalah satu restoran yang ada di mall tersebut. Sementara Myungsoo memesan, Suzy asik dengan ponselnya.

“Yya, bagaimana kabar namjachingumu?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

“Yah seperti biasa. Dia sedang sibuk dengan pekerjaannya..” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.

“Suzy-ah,” panggil Myungsoo. Suzy menurunkan ponselnya dan memandang Myungsoo dengan tatapan yang berarti ‘ada apa’.

“Lusa orang tuaku akan ke Paris..”

“Eyy, ku kira ada apa. Jangan seperti anak kecil, merengek agar orang tuanya tidak pergi..”

“Eonni Jiyeon menikah..” DEG. Suzy menatap Myungsoo dengan tatapan terkejut. Sepertinya sudah sangat lama ia tak mendengar nama itu.

“Rasanya ingin aku kesana, tapi…”

“Myungsoo-ah, ada yang perlu aku jelaskan..” ucap Suzy dengan tatapan serius.

“Permisi,” seorang pelayan menaruh pesanan mereka di meja. Myungsoo mengucapkan terima kasih sementara Suzy masih menatap namja itu.

“Wae?” tanya Myungsoo sambil asik mengaduk makanannya. Suzy terlihat ragu untuk mengatakannya.

“Eyy, ada apa? Jangan membuatku menunggu Bae Suzy-ssi..” ucapnya.

“Aniya. Aku lapar sekali. Wah, makananya terlihat enak..” kata Suzy langsung memakan makananya.

Beberapa menit kemudian mereka keluar dari restoran itu dan naik ke mobil Myungsoo. Sementara Myungsoo mengemudikan mobilnya dengan hati-hati, Suzy sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Myungsoo-ah, sebenarnya ada yang ingin aku katakan. Bisa kau hentikan mobilmu dulu? Aku tak ingin celaka..” kata Suzy. Myungsoo memandangnya heran, tapi akhirnya ia menepikan mobilnya.

“Wae?”

“Tolong dengarkan aku sampai selesai, jangan memotong ucapanku. Dan, kalau bisa jangan marah padaku..”

Myungsoo mengangguk.

“Jadi ku pikir Jiyeon tak sepenuhnya menolakmu.. bahkan ku pikir ia menyukaimu. Malam itu saat kami ke toilet di Namsan Tower, aku memberitahukan tentang perjodohan-perjodohanmu yang sebelumnya. Kau tahu kan jika sudah menjadi tugasku sebagai sahabatmu untuk tak memberi harapan pada mereka untuk mendapatkanmu. Aku kira Jiyeon hanya memanfaatkanmu seperti yeoja lain juga yang dijodohkan denganmu. Jadi… aku… aku mengatakan hal yang cukup mengerikan padanya..” kata Suzy. Hening. Myungsoo tak merespon apapun. Ia hanya memandang kosong ke luar kaca mobilnya.

“Mianhae..” ucap Suzy lagi.

Myungsoo masih mencerna kata-kata Suzy tadi. Jangan-jangan alasan Jiyeon menolak ciumannya dulu adalah perkataan Suzy ini? Myungsoo menghela nafasnya panjang.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku dulu?” tanya Myungsoo masih tanpa menoleh ke Suzy.

“Aku.. aku takut kau membenciku..” ucap Suzy dengan bergetar. Myungsoo kemudian menjalankan mobilnya lagi dan mengantar Suzy ke rumahnya.

Sehabis mengantar Suzy, Myungsoo berhenti dipinggir jalan dan menundukkan kepalanya ke setir mobilnya. Pikirannya terus berkelana.

Keluarga Jiyeon terlihat sangat sibuk mempersiapkan pernikahan Yoona. Eomma nya yang sibuk dengan komponen-komponen yang harus dibawa saat pernikahan nanti, Yoona dan Appa nya yang sedang latihan berjalan beriringan, Jiyeon yang tengah mengurus bagian makanan ke restoran yang sudah dipesan, dan Nayoung yang sibuk dengan games di ponselnya. Ya, semua sibuk karena hari pernikahan adalah besok!

Jiyeon mengetuk-ngetukkan heelsnya karena bosan menunggu taxi yang dari tadi tak kunjung lewat juga. Kakinya sudah pegal karena seharian mengejar manajer restoran yang keras kepala untuk mengganti jenis kue pernikahan. Salahkan Yoona karena ia baru bilang kalau calon suaminya alergi buah stroberi.

DRRT

Jiyeon mengeluarkan ponsel dari tasnya dan segera memeriksanya. Ternyata eonni nya itu menelponnya.

“Ugh, ada apa lagi,” gumamnya dengan nada kesal. Ia kemudian mengangkatnya, “Yeoboseyo?”

“Yya, Park Jiyeon. Lama sekali, kau kemana saja sih?” omel Yoona. Jiyeon menjauhkan ponselnya dari telinganya saat Yoona memarahinya.

“Aku masih menunggu ta—“ Jiyeon tak sengaja melihat taxi yang sudah sedari tadi ia tunggu dan menghentikannya. Ia kemudian naik dan melanjutkan percakapannya dengan Yoona. “Taxi. Ini aku baru dapet taxi nya. Ah, eonni manajernya tadi tuh terus-terusan kabur. Ugh, eonni tak tahu betapa lelahnya ak—“

“Ah sudahlah. Eonni masih sibuk.” TUT.

“Ah, eonni yang dingin,” gumam Jiyeon. Yah, tapi bukan salah Yoona sepenuhnya sih. Ia hanya sedang uring-uringan karena pernikahannya.

“Aku pulang,” ucap Jiyeon saat ia sampai di rumahnya. Taka da yang menyahut, ruang tamunya juga tampak sepi. Ia kemudian berjalan ke taman belakang, dilihatnya eommanya dan Nayoung masih sibuk dengan ponselnya sementara Yoona dan Appa nya masih latihan berjalan beriringan.

“Eonni, kau tak lelah juga? Lagipula kasihan appa,” ucap Jiyeon.

“Eomma sudah berulangkali mengatakannya, tapi eonnimu tetap bersikeras untuk latihan,” bisik eommanya.

“Kau juga harus latihan, Jiyeon-ah. Kau kan jadi pengiring pengantin wanita ku besok. Nayoung, kau juga!” ucap Yoona tanpa menghentikan sesi latihannya dengan appanya.

Nayoung dan Jiyeon saling tatap, namun bukannya latihan, mereka justru langsung masuk ke dalam rumah. Untunglah Yoona saat itu tidak sedang melihatnya.

Jiyeon langsung masuk ke rumahnya dan merebahkan dirinya di atas kasurnya. Ia mengambil ponselnya dan membuka galerinya. Foto saat di Namsan Tower, dia dan Myungsoo. Perlukah ku jelaskan kalau Jiyeon sengaja memotong foto Suzy dulu? Dan ia mendapatkan foto itu dari Krystal belum lama ini. Namun Jiyeon tak membalas pesan yang Krystal kirimkan dulu. Sebenarnya ia takut, ia takut kalau tiba-tiba ia jadi menanyakan tentang Myungsoo.

DRRT

Jiyeon-ah, apa semuanya baik-baik saja? – Mina
Tidak – Jiyeon

Yya, ada apa lagi? Dia menemuimu? – Minah

Mwo? Nugu? – Jiyeon

Eyy, jangan rahasia-rahasiaan. Si namsan tower – Minah

Apaan sih. Tidak tidak tidak. Aku hanya sibuk mengurus pernikahan eonni. Dan ternyata ini sangat melelahkan. Kau tahukan betapa perfeksionis nya eonniku itu – Jiyeon

Ah.. – Mina

Jadi begitu – Minah

Ada apa dengan reaksi kalian =_= -- Jiyeon

Btw, apa namja itu besok akan datang ke pernikahan kakakmu? – Mina

Aku tak tahu. Mungkin tidak – Jiyeon

Jangan buat Jiyeon berharap, Mina bodoh – Minah

Siapa juga yang berharap – Jiyeon

Jiyeon menghela nafasnya lagi.

Hari pernikahan Yoona, tamu sudah mulai berdatangan. Pernikahan Yoona digelar di sebuah gedung yang disewa oleh si calon suami Yoona. Gedungnya terbilang sangat mewah, Jiyeon saja heran, bagaimana Yoona bisa memikat hati seorang konglomerat begini.

Si calon suami Yoona sudah berdiri di altar ditemani seorang pastur. Tampak wajah bahagia berseri namun gugup.

“Pengantin wanita, masuk..” ucap si MC. Lagu pengiring pun dimulai. Pintu ruangan terbuka dan Yoona yang nampak sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih bersih masuk ke dalam. Di belakangnya, Jiyeon dan Nayoung mengiringnya perlahan.

Dan malam harinya, pesta dilakukan besar-besaran di gedung itu. Jiyeon yang terlihat santai dengan gaun berwarna biru langit panjang itu tengah mengambil beberapa makanan. Jujur saja ia hampir lelah karena terus tersenyum dan menyapa tamu-tamu. Ia juga tahu betapa lelah eomma, appa, Yoona, si suami dan keluarganya. Nayoung adalah perkecualian, anak itu malah bersembunyi di toilet sambil mendengarkan lagu dari ponselnya.

Jiyeon memandang ke sekelilingnya sampai pandangannya akhirnya berlabuh pada eomma dan appa nya yang sedang bercakap-cakap dengan Tn. dan Ny. Kim. Nafasnya seperti sesak. Ia segera memalingkan wajahnya dan berusaha mengatur nafasnya. Setelah menstabilkan pernafasan dan pikirannya, ia buru-buru mengedarkan pandangannya lagi.

Hanya satu pertanyaan bodoh yang bergelut di otaknya. Apakah Myungsoo datang? Sebenarnya kecil kemungkinan namja itu mau datang, mengingat perpisahannya dulu.

“Kau mencariku?” DEG. Suara yang familiar. Jiyeon langsung memutar tubuhnya sesuai sumber suara tadi. Myungsoo berada di hadapannya. Jiyeon masih termenung. Akhirnya ia bisa melihat wajah namja yang selalu ia rindukan. Ingin rasanya ia memeluk namja itu, tapi tubuhnya serasa kaku dan lidahnya kelu.

“Jiyeon-ssi..” panggil Myungsoo menyadarkannya.

“Ah, ne..” otaknya yang terus berpikir sedari tadi akhirnya hanya mampu mengatakan hal itu. Myungsoo menatapnya terus sementara Jiyeon masih menghindari tatapannya.

“Eo? Eonni!” panggil Krystal sambil mendekat ke arah mereka berdua. Ia memeluk Jiyeon, dan walau ragu pada awalnya, Jiyeon membalas pelukannya.

“Eonni, kenapa tidak ke Korea lagi?” tanya Krystal. Jiyeon hanya tertawa sebagai ganti jawabannya.

“Ah, aku kesana dulu ya,” ucap Jiyeon buru-buru. Ia lalu meninggalka Krystal dan Myungsoo begitu saja.

“Oppa, fighting!” Myungsoo hanya tersenyum simpul untuk membalas semangatnya Krystal.

Diam-diam Myungsoo mengikuti Jiyeon. Ternyata benar dugaannya, Jiyeon menghindarinya. Yeoja itu pergi ke balkon dan tampak menerawang langit malam yang begitu indah di Paris.

“Jiyeon-ah..” panggil Myungsoo dari belakangnya. Jiyeon nampak terkejut dan hampir kabur darinya, namun Myungsoo sigap menahannya.

“Ada yang ingin aku bicarakan..”

“…baiklah.”

Hening. Suasana hening yang sudah lama tidak Jiyeon rasakan. Mereka berdua sama-sama memandang langit. Myungsoo sebenarnya bingung harus dari mana ia mengatakannya. Sementara Jiyeon tampak gelisah, ingin rasanya ia kabur dari sana sekarang juga.

“Aku..mianhae. Dulu aku pernah mengatakan hal yang menyakitkan..” ucap Myungsoo saat itu. Jiyeon menghela nafasnya.

“Sudahlah, itu sudah lama..”

“Aku sudah mengetahui semuanya dari Suzy. Dia… apa yang dia katakana hanyalah semata-mata tugasnya ia untuk menjauhkan semua yeoja yang telah orang tuaku tangguhkan agar bersamaku. Dia begitu peduli padaku karena dia adalah sahabatku. Dan untuk tambahan, ia sudah memiliki namjachingu. Dan.. aku juga sudah mempunyai orang yang ku suka.. tapi..”

Jiyeon langsung menatap Myungsoo yang masih menatap kea rah langit.

“Aku sudah pernah ditolak olehnya… jadi, apakah aku harus melakukannya lagi?” tanya Myungsoo sambil menatap Jiyeon tepat ke matanya.

“Lakukanlah..” ucap Jiyeon langsung. Myungsoo tersenyum mendengarnya. Ia memajukan wajahnya perlahan ke wajah Jiyeon, mata mereka saling tatap. Mereka berciuman cukup lama, sampai tanpa sadar Jiyeon kehabisan nafas.

Myungsoo memundurkan dirinya namun masih menatap Jiyeon sambil tersenyum.

“Kau tahu kan kalau aku itu baik hati makanya semudah itu memaafkanmu,” kata Jiyeon kemudian. Myungsoo hanya menatapnya sambil terus tersenyum.

“Eonni! Ayo foto keluarga!” teriak Nayoung. Jiyeon berdecak kesal, namun Myungsoo segera menyuruhnya masuk. Jiyeon kemudian tersenyum padanya dan menariknya ikut masuk ke dalam gedung lagi.

Dari arah panggung Nayoung dan keluarganya menyuruhnya cepat. Jiyeon pun segera kesana tanpa melepaskan genggamannya.

“Yya, Jiyeon-ah.. kita mau foto keluarga..” bisik eomma nya pada Jiyeon sambil melirik ke arah Myungsoo. Myungsoo tersenyum kikuk sambil berusaha melepaskan genggamannya, namun Jiyeon malah mempereratnya.

“Dia juga keluarga! Ahjussi, palli..” ucap Jiyeon sambil berdiri berdampingan dengan Myungsoo disisi Nayoung.

KLIK.

CKREK

“Ehm, jadi siapa dia?” tanya eomma Jiyeon setelah sesi pemotretan selesai. Yoona, Nayoung dan ayahnya juga ikut mengerumuni Jiyeon dan Myungsoo.

“Calon suamiku!” celetuk Jiyeon. PLAK. Eomma nya memukul kepalanya. Myungsoo cukup terkejut, namun melihat Jiyeon malah terkekeh geli, ia jadi ikut terkekeh.

“Arasseo. Eomma, kenalkan.. namanya Kim Myungsoo. Anak Tn. dan Ny. Kim,” kata Jiyeon. Myungsoo kemudian memberikan salam kepada mereka.

“Ah, jadi kau ini yang sudah membuat Jiyeon sering mengabaikan makan malamnya dan mengunci diri di kamar?”

“Eomma..” bisik Jiyeon berusaha menghentikan kata-kata eommanya yang membuatnya malu.

“Saya tidak akan membiarkannya lagi..” kata Myungsoo sambil tersenyum.

“Yya! Ini masih hari bahagia ku, sekarang pergilah kalian.. ke café ke restoran atau ke hotel, terserah kalian. Sekarang pergilah!” ucap Yoona kesal.

Jiyeon dan Myungsoo kemudian berjalan beriringan keluar gedung. Tangan mereka masih bertautan, seperti  tak mau lepas.

THE END.

 

Hohoho akhirnya selesai juga. Semoga memuaskan. Dan semoga aku bisa melanjutkan fanfic yang lainnya. See ya!

Advertisements

16 responses to “(CHAPTERED – CHAPTER 3 – END) HOLIDAY HOSTAGE

  1. Ahh akhirnya kesalahpahamannya kelar juga,, chukhae myungyeon, buruan nyusul yoona yah
    Sebenarnya suzy suka myung kan, untung dia sadar takut persahabatan mereka rusak, dan udah jadi tugas dia jauhin calonnya myung. Walaupun udah setahun, tp akhirnya suzy jelasin juga, jadi myung juga tau dimana kesalahannya. ☺☺☺

Here you are

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s