[CHAPTERED – CHAPTER 1] UNCONDITIONALLY

Untitled-1

 

Judul : Unconditionally // Genre  : College Life, Comedy, Romance // Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Bae Suzy, Park Chanyeol // Rating : PG-15 // Author : Jichan

 

–     Chapter 1 –

 

Seorang yeoja berambut panjang berwarna coklat muda berjalan santai di sebuah lorong kampusnya. Di tangannya, ia memegang beberapa lembar kertas sementara tangan lainnya memegang kopi Americano yang tadi ia beli saat perjalanan ke kampusnya.

BRAKKK

Tiba-tiba seseorang menabraknya dari arah belakang, membuat bajunya basah terkena Americano nya yang masih panas itu.

“Ups, mian..” ucap yeoja yang tadi menabraknya. Jiyeon memandang yeoja itu tajam, ia tahu yeoja itu hanya meminta maaf sebagai formalitas. Yeoja itu kemudian hanya meninggalkannya sendirian.

Kesal? Sudah pasti. Namun bukan hanya sekedar kesal tak jelas, jelas-jelas ia justru memutar otaknya untuk membalas perbuatan yeoja tadi. Dan Jiyeon tahu siapa yeoja yang menabraknya tadi. Dia adalah Bae Suzy, teman satu jurusannya. Yeoja yang sangat populer dengan berbagai embel-embel kesayangan mahasiswa serta dosen.

Hari sial apa ini sehingga pagi-pagi sudah mendapat masalah dari yeoja itu. Padahal ini baru hari pertama di tahun keduanya kuliah disini. Dan ia sudah sukses menjadi mahasiswi yang tidak terlalu menonjol. Harapan di tahun keduanya ini adalah dapat melanjutkan gelarnya tersebut. Bukannya apa, ia hanya ingin lulus sesegera mungkin tanpa memiliki masalah apapun.

Jiyeon melanjutkan perjalanannya dengan wajah kesalnya. Ah, tidak. Itu memang ekspresinya saat diam. Ia kemudian mengambil salah satu bangku yang berada paling depan dan pojok. Itu adalah tempat paling aman agar tidak mendapatkan masalah, hal ini berdasarkan pengamatan Jiyeon selama satu tahun.

Ia kemudian menaruh kertas-kertasnya diatas meja sambil membacanya dengan serius, sambil sesekali menyesap Americano nya yang tinggal sedikit itu.

“Hahaa, aku tak menyangka dia adalah orang yang seperti itu..” ucap seorang yeoja sembari masuk ke dalam ruang kuliah. Di belakangnya terdapat beberapa pengikutnya, ehm, itulah yang Jiyeon pikirkan. ‘Bae Suzy dan pengikutnya’ seolah sudah melekat sebagai julukan yang cocok untuk mendeskripsikan mereka di mata Jiyeon.

Mereka kemudian duduk dibarisan paling belakang. Sebelumnya Suzy melihat ke arah Jiyeon dengan sinisnya, namun Jiyeon tidak sadar karena ia sibuk dengan naskah di depannya. Hari ini mereka harus mempraktekkan naskah yang sudah dibagikan secara undian. Dan ia harus menghafalkan naskahnya dalam waktu kurang dari sepuluh menit ini. Yah, walaupun tadi di jalan ia sempat membacanya sekilas. Kemarin Jiyeon tak sempat menghafalkannya karena Krystal semalaman menyuruhnya untuk melihat latihannya dan memberikan masukan tentang gerakan dance nya.

Tidak lama kemudian seorang namja berpostur cukup tinggi dan juga tampan, masuk ke ruang kuliah. Tatapannya yang tidak bersahabat itu membuat Jiyeon bergidik ngeri, apalagi karena sikapnya yang terlalu tenang. Namun siapa sangka, namja itu adalah mata rantai paling tinggi di kelas ini setelah dosen. Namanya Kim Myungsoo. Namja yang merupakan anak kesayangan dosen serta dicintai banyak mahasiswi. Arti dicintai disini adalah benar bahwa banyak mahasiswi yang menyukainya, bahkan menyatakan perasaannya pada namja itu. Namun dasar namja dingin, ia hanya mengatakan hal-hal menyakitkan pada yeoja-yeoja tersebut. Namun ada kalanya namja itu berubah menjadi aneh dan bertingkah konyol, saat tidak mengenalnya dengan baik tentu sisi ini tidak terlihat.

“Kim Myungsoo!” panggil salah satu namja dari jejeran bangku anak-anak populer disana. Ya, mereka selalu menyediakan satu tempat khusus untuk Myungsoo. Dan Myungsoo senang-senang saja. Beberapa saat kemudian mahasiswa lain mulai berdatangan dan memenuhi ruang kuliah. Dosen yang mengajar juga telah tiba.

“Baik, untuk ujian kali ini tidak semuanya akan diuji hari ini karena waktu kita terbatas. Kau, emm.. siapa?” dosen menunjuk ke arah Jiyeon. ‘Sial, aku maju pertama,’ batinnya.

“Park Jiyeon.. imnida..” ucapnya sambil berjalan perlahan ke depan kelas.

“Naskah nomor berapa?” tanya dosen lagi.

“Empat..”

“Siapa lagi yang mendapat nomor empat?” tanya si dosen. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan mereka dengan ragu, lagipula siapa sih yang mau maju pertama.

“Ya, kalian.. sebutkan nama kalian dan maju,” titah si dosen.

“Bang Minah..”

“Kwon Mina..”

“Lee Byunhun..”

“Jung Jinyoung..”

“Do Kyungsoo..”

Ucap kelima orang itu yang kini sudah berdiri di depan dan siap memainkan peran mereka. Lagi-lagi Jiyeon mendapatkan peran orang jahat, tapi ya sudahlah. Toh mereka memang tak bisa memilih. Naskah kali ini bercerita tentang seorang wanita berumur sekitar dua puluh tahun yang selama hidupnya selalu dihabiskan dicaci maki oleh orang-orang (Mina) yang kemudian bertemu dengan ibu kandungnya yang ternyata dulu telah membuangnya (Jiyeon). Namun saat bertemu, kedatangan Mina justru membuat ibu kandungnya itu marah dan makin membenci anaknya. Sedangkan Minah merupakan orang yang telah membantu Mina menemukan ibunya. Byunghun yang berperan sebagai ayah Mina, Jinyoung yang berperan sebagai suami Jiyeon dan Kyungsoo yang berperan sebagai teman Mina.

Semua berjalan lancar, sampai ketika di adegan dimana Mina harusnya menangis namun ia tak kunjung mengeluarkan air matanya itu dan justru tertawa sambil berkata maaf pada dosen dan teman-temannya. Tentu saja semua memandang aneh ke arah Mina.

“Ehm, kalian mendapat nilai C karena sama sekali tidak ada feel dipenampilan barusan,” ucap dosen tegas. Mereka berenam pun hanya menghela nafasnya dan kembali ke tempat duduknya. Jujur saja Jiyeon kesal setengah mati karena ia gagal mendapatkan nilai bagus kali ini.

Kemudian sampailah giliran Bae Suzy dan pengikutnya. Jiyeon sebenarnya masih penasaran bagaimana bisa mereka mendapat nomor undian yang selalu sama sehingga mereka terus-terusan sekelompok. Mereka bisa disebut sangat sempurna, memainkan peranan dengan sangat baik. Nilai mereka juga selalu bagus.

Jiyeon memperhatikan dengan baik-baik drama mereka. Ternyata ini kisah tentang cinta segitiga, kisah pasaran sebenarnya. Namun ada sesuatu yang membuat kisah ini menjadi tidak membosankan. Bahkan Jiyeon masih memperatikan mereka. Suzy, lagi-lagi, menjadi yeoja yang diperebutkan. Dan namja yang memperbutkannya adalah Kim Myungsoo dan Park Chanyeol. Ugh, kombinasi yang sudah sangat biasa.

Jiyeon keluar ruang kuliah paling terakhir. Ia berjalan santai, hendak pulang ke apartemennya yang hanya berjarak beberapa langkah dari gerbang utama kampusnya. Sehari-hari ia menaiki sepeda kampus karena justru perjalanan dari gedung jurusannya dengan gerbang utama yang jauh.

SET

Seorang yeoja berambut hitam bergelombang dengan ekspresi datarnya menahan Jiyeon untuk pergi. “Aku belum makan, temani aku,” katanya. Belum juga Jiyeon menjawab, namun temannya itu sudah keburu menariknya ke kantin.

Jiyeon memandang Krystal yang sibuk mengunyah makanan di depannya. “Jangan memandangiku terus, lebih baik kau juga makan,” katanya pada Jiyeon. Jiyeon hanya menghela nafasnya.

“Aku tak nafsu makan. Kau tahu? Aku mendapat nilai C tadi,” ucap Jiyeon dengan nada kesal. Krystal hanya memandangnya tak percaya.

“Siapa biang keroknya? Sepertinya kau sudah punya rencana untuk membalasnya,” kata Krystal sambil mengunyah makanannya.

“Yya, yya, jangan makan sambil bicara. Bisa-bisa fans mu berkurang saat melihatmu begini,” kata Jiyeon tiba-tiba.

“Tidak. Fans ku tidak akan pernah berpaling dariku. Lagipula jangan mengalihkan pembicaraan, Jiyeon-ah..” ucapnya. Jiyeon menghela nafas lagi.

“Kwon Mina. Dia tertawa disaat adegan menangis. Sial,” ucap Jiyeon dengan nada sangat amat kesal. Krystal hanya mengangguk-angguk mendengarnya.

“Lalu apa rencanamu?” tanya Krystal kemudian.

“Tidak, aku tidak akan membalasnya..” kata Jiyeon sambil memulai makan siangnya.

“Mwo? Wae? Seperti bukan kau saja,” ucao Krystal dengan ekspresi tak percaya. Jiyeon berdecak kesal.

“Dia tidak melakukannya dengan sengaja. Dan menurutku memang lucu saat kita berusaha menangis dan mengeluarkan air mata namun justru tak bisa. Ku pikir dia sudah berusaha keras. Yah, walau aku masih kesal dengannya,” jelas Jiyeon.

“Hmm..” hanya gumaman kecil yang Krystal keluarkan dari mulutnya setelah mendengar penjelasan Jiyeon.

“Keunde, kau tahu? Bae Suzy.. dia tadi pagi menabrakku sehingga bajuku terkena tumpahan kopi americano ku yang masih panas,” ucap Jiyeon tiba-tiba.

“Jangan. Jangan pernah kau berpikir untuk mengerjainya. Kau tahu kan seperti apa orangnya, menyebalkan dan selalu menganggap dirinya adalah ratu dari semuanya,” Krystal terus memandang ke arah Jiyeon agar Jiyeon mendengar kata-katanya.

“Arasseo. Lagipula ini hal kecil. Keunde, jika dia mengerjaiku lagi, aku tak akan tinggal diam..” kata Jiyeon..

“Habis ini kau ada kelas?” tanya Krystal. Jiyeon menggeleng.

“Kalau begitu aku duluan ya, aku dapet dosen killer kali ini. Annyeong,” pamit Krystal buru-buru. Jiyeon menghentikan aktivitas makannya dan langsung pergi begitu saja. Mending ia pulang.

Kali ini ia sedang malas untuk naik sepeda, jadi ia memutuskan untuk mengambil jalan pintas yang biasa ia lewati untuk berjalan. Dalam perjalanannya kali ini sepertinya tidak akan berjalan mulus, ia lupa kenyataan bahwa tempat ini adalah markas premannya kampus. Namun saat ini ia sedang sangat tidak peduli dengan semua itu. Ia hanya ingin pulang dengan segera.

Kakinya berhenti melangkah setelah melihat Suzy tengah berdiri sendirian sambil memegang sepuntung rokok. Segera, Suzy mengetahui keberadaan Jiyeon itu. Tidak ada kesempatan untuk berbalik, jadi Jiyeon meneruskan perjalanannya sambil berpura-pura tak melihat Suzy.

“Yya!” panggil Suzy kemudian. Mau tak mau, Jiyeon pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke Suzy.

“Jangan beritahu siapapun, kalau orang lain tahu berarti itu semua salahmu dan aku akan memberimu pelajaran,” ucapnya dingin. Jiyeon memilih langsung melanjutkan perjalanannya daripada membalas perintah si Suzy.

PLAK.

Suzy melemparkan bungkus rokoknya ke kepala Jiyeon. Jiyeon kembali menghentikan langkahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata, “..baiklah.”

Satu rintangan berlalu, tibalah rintangan yang sudah Jiyeon hafal. Beberapa namja dengan tampang sangar nampak berkerumun disana, Skenario terbaik adalah mereka hanya merampas uangnya, dan scenario buruknya namja itu akan menggodanya dan memaksanya tinggal. Selama ini baru scenario terbaik yang pernah terjadi padanya. Dan semoga saja kali ini juga berlaku scenario terbaiknya.

“Oy, kau lagi. Uang pajak,” ucap salah seorang namja yang bertubuh paling besar padanya. Jiyeon segera mengeluarkan beberapa lembar uangnya, sebenarnya ini lebih dari cukup.

“Hmm.. sepertinya kita sudah sering bertemu..” ucap seorang namja dari balik namja bertubuh besar ini. Namja itu menunjukkan smirknya. Oh, Jiyeon tahu siapa itu. Kim Jongin, namja berkulit hitam yang merupakan ketua geng berandal ini. Namja itu menyuruh teman berbadan besarnya untuk mundur. Perlahan namja itu mendekat kearah Jiyeon. Jiyeon memundurkan tubuhnya. Sungguh, ia sedang tak ingin berurusan dengan mereka.

TAP

Jongin atau yang biasa dipanggil Kai itu menaruh tangannya di pundak Jiyeon. Jiyeon sempat bergidik ngeri ketika tatapannya tak sengaja bertemu dengan mata namja itu. Ia kemudian memalingkan wajahnya.

“Bersenang-senanglah dulu disini,” katanya lagi. Jiyeon hanya tersenyum paksa sambil berkata, “Aku harus segera pulang..”

“Uhh, jangan beg—“ Jiyeon langsung melayangkan tendangan tepat ke wajah namja itu, sampai-sampai namja itu kehilangan keseimbangan dan jatuh. Semua antek-anteknya menatap Jiyeon dengan tatapan mematikan. Jiyeon tahu, ini berarti ia tak bisa mengambil jalan damai lagi dengan mereka

Kai bangkit dan bersiap membalas tendangan Jiyeon dengan kepalan tangannya yang langsung mengarah ke wajah cantik Jiyeon.

BAK

Jiyeon menghindar dengan mudahnya. Namun bukan Kai namanya jika menyerah begitu saja, ia terus-terusan melayangkan pukulan ke Jiyeon.

“Yya, apa yang kalian lakukan. Cepat pegang dia,” ucap Kai pada anak buahnya itu. Satu persatu anak buahnya berusaha menaklukan Jiyeon, namun dengan mudah justru Jiyeon yang membuat mereka babak belur.

Sementara yang lain tergeletak karena kesakitan, Jiyeon bergerak menuju Kai. Ia mengangkat wajah namja itu yang kini pucat.

“Jangan pernah menggangguku lagi. Aku sudah berbaik hati memberikan uangku pada sampah seperti kalian. Dan anggap hari ini kita tidak pernah bertemu. Keunde, jika kalian bersikeras untuk balas dendam padaku, saat itulah aku akan membuat kalian menyesalinya,” bisik Jiyeon pada Kai. Ia lalu berjalan santai, seolah tak ada yang terjadi.

“Yya, siapa dia?” tanya Kai. Teman-temannya menggeleng tanda tak tahu.

“Tch, awas saja yeoja itu,” ucap Kai kesal.

Pagi ini Jiyeon ada kuliah pagi, tepatnya jam delapan pagi. Untung saja ia bisa bangun pagi. Padahal kemarin setelah menghajar Kai dan anak buahnya, ia merasa sangat lelah. Maklum, ia sudah lama tidak melakukannya.

Dengan santainya ia kembali menempatkan dirinya di bangku kemarin. Ia kemudian asik bermain dengan ponselnya sendiri sampai kursi lainnya mulai terisi. Jam bahkan sudah menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit, namun dosen tak kunjung datang.

SREKK

Asisten dosen masuk dan memberitahukan bahwa dosen sedang sakit jadi kuliah diganti hari lain. Jiyeon cukup kesal, padahal ia sudah bangun pagi. Mana ia tak bisa langsung pulang, siang nanti ia ada kuliah lainnya.

SREEKK

Seorang namja bertubuh tinggi masuk sambil melihat ke sekeliling kelas. “Siapa yang namanya Park Jiyeon?”

“…” KRIK

Jiyeon mengangkat tangannya perlahan, ia bahkan tak tahu siapa namja itu. Kenapa ia bisa dicari?

“Jam empat sore ke ruang klub,” katanya cepat. Namja itu kemudian pergi begitu saja, meninggalkan pertanyaan besar dikepalanya. Begitupula dikepala mahasiswa lainnya.

SREKKK

“Park Jiyeon mana?” kini seorang namja berambut hitam dan kelihatan memiliki otot yang besar. Jiyeon mengangkat tangannya lagi. Ada apa ini..

“Jam tiga ada rapat di ruang klub,” katanya sambil buru-buru menutup ruang kuliah.

SREKK

Belum saja Jiyeon mencerna keadaan saat ini, dan sudah ada seorang yeoja yang terlihat sangat cantik datang menanyakan keberadaannya. Dan lagi-lagi ia disuruh datang ke ruang klub jam setengah empat.

Satu..

Dua..

Tiga..

Jiyeon menghela nafasnya lega, sepertinya tidak ada lagi yang mencarinya.

“Kau Park Jiyeon? Ketua klub menyuruhmu datang jam lima di ruang latihan,” ucap Kyungsoo. GOD. Jiyeon benar-benar masih belum mengerti ini semua.

Buru-buru ia keluar dari kelasnya dan mencari sahabatnya, Krystal. Tak lama setelah mencari, akhirnya ia menemukannya. Jiyeon langsung menarik Krystal begitu saja ke salah satu bangku di taman.

“Krystal-ah, sesuatu yang buruk terjadi padaku..” ucap Jiyeon tiba-tiba.

“Wae? Kau nampak biasa saja. Tidak ada luka sama sekali,” kata Krystal. Jiyeon memandang temannya aneh.

“Aniya. Bukan begitu. Tapi tadi ada beberapa orang yang menyuruhku untuk datang ke ruang klub dan ruang latihan. Aku bahkan tak tahu klub apa ruang latihan apa..” kata Jiyeon dengan tatapan kosong.

“Apa kau habis mencari gara-gara?” tanya Krystal menyelidik. Jiyeon diam sebentar sebelum akhirnya menggeleng.

“Hmm, sepertinya kau dikerjai. Kemarin itu hari pendaftaran klub, sepertinya ada orang iseng yang mengisi namamu diberbagai klub tersebut,” jelas Krystal.

“Ahhhh, aku hanya akan langsung keluar,” kata Jiyeon frustasi.

“Yya, tidak bisa keluar begitu saja. Apa kau tahu betapa menyeramkannya senior-senior kita itu. Ugh, membayangkannya saja aku tak mau. Lebih baik kau ikuti saja klub-klub itu, btw, ada berapa klub?”

“Empat..”

“Gila..”

“….”

“Klub apa saja?”

“Aku tak tahu..”

“Kalau begitu beritahu aku siapa yang menyuruhmu bertemu di ruang klub..”

“Hmm.. ada Kyungsoo, namja tinggi dengan tampang boyband, namja berambut hitam dengan ototnya yang besar, serta yeoja tinggi semampai yang terlihat sangat cantik…”

“Kyungsoo itu anggota klub tenis.. Namja tinggi dengan tampang boyband itu… hmm.. dari klub dance? Sepertinya dia Sehun. Kalau namja berambut hitam dan otot besar itu sepertinya Jinwoon dari klub taekwondo. Ah, yeoja tinggi cantik itu mungkin Yoona sunbaenim, dari klub basket..” ucap Krystal masih sambil berpikir.

“Yya, padahal aku Cuma mengatakan deskripsi umum, bagaimana kau bisa tahu mereka..” kata Jiyeon tak percaya. Krystal hanya memasang wajah sok coolnya itu.

“Keunde, ke empat klub itu menggunakan tenaga.. bagaimana bisa aku melakukannya..” DUK. Jiyeon langsung memukul kepalanya ke sandaran bangkunya.

“Setidaknya aku jadi tidak kesepian saat berlatih dance nanti,” ucap Krystal bahagia. Tidak, bukan ekspresinya yang menujukkan bahwa ia bahagia, tapi kata-katanya.

Jiyeon hanya tersenyum kecut mendengarnya.

Jam tujuh malam akhirnya ia bisa pulang juga. Sepertinya ini menjadi rekor terlamanya berada di kampus. Ia menghela nafasnya panjang. Di tangannya ia memegang sebuah buku kecil. Buku jadwal hariannya yang biasanya hanya diisi dengan jadwal kuliah, jadwal ujian dan jadwal ia harus menonton latihan dan pertandingan dance Krystal, kini sudah ia tambah dengan jadwal latihan dan kumpul klub. Sial.

Gara-gara inilah jadwalnya sangat padat. Sunggu tidak adil. Siapa kira-kira yang berani mengerjainya seperti ini. Ugh..

Hari Senin ia wajib latihan tenis jam tujuh malam. Hari Rabu ada latihan dance jam tujuh malam juga. Ugh, bahkan weekend nya juga tersita untuk latihan klub. Sabtu siang ada latihan basket sementara hari Minggu ada latihan taekwondo sore hari.

Hanya ada dua nama yang ia curigai melakukan hal ini padanya. Bae Suzy dan Kim Jongin. Namun mengingat Kai tidak memiliki otak selicik dan sepandai ini Jiyeon pun langsung mengambil kesimpulan bahwa yang melakukan hal ini adalah Bae Suzy.

DRRT

Ponselnya bergetar. Krystal menelponnya.

“Yeoboseyo? Wae Krystal-ah?” tanya Jiyeon. Tidak biasanya temannya itu menelponnya. Sepertinya ada sesuatu yang penting.

“Jiyeon-ah, barusan aku tak sengaja mendengar percakapan Suzy, Naeun dan Sulli di toilet kampus. Ternyata mereka yang melakukannya. Mereka yang mengerjaimu..” Jiyeon berdecak kesal.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Krystal.

“…lihat saja kesempatan yang ada. Berurusan dengan mereka sepertinya akan sangat sulit urusannya..” kata Jiyeon kemudian. Krystal membuang nafasnya lega.

“Jangan mencari masalah dengan mereka, eoh?” ucap Krystal lagi sebelum memutus sambungan telepon mereka.

“Hmh, jangan mencari masalah dengan mereka? Hah, mereka yang terlebih dahulu mencari masalah denganku, jadi bukan salahku jika aku juga mencari masalah dengan mereka,” gumam Jiyeon.

to be continued…

hei haloo.. untuk ff ini jalannya masih panjang, ditunggu kelanjutannya ya 🙂

semoga kalian senang

kekeke

fyi chapter 3 alias chapter terakhir dari holiday hostage udah selesai aku tulis.

besok bakal aku post kekeke

anw tengkyu buat semua pengunjung dan pembaca,

dadah :))

Advertisements

10 responses to “[CHAPTERED – CHAPTER 1] UNCONDITIONALLY

  1. Hrs kah aq ketawa.hahhaaa
    Sumpahh jiueon d sini pengin jd g terliht eh tpi terlihat

    Knp.sih dgn.suzy dendam apa sm jiyiiii

    Penasaran

  2. Wah ff ini bikin aku penasaran weh. Keren keren 👍
    keinginan Jiyi gx terkabul nih (ingin tak terlihat)
    Suzy licik bgt weh, kek gini kok diperebutin banyak orang, myung n chan jg lg. Hadeuhh
    Jiyi keren pas ngadepin kai n genk nya.
    Tunggu pembalasan Jiyi yeoja² centil.
    Lanjut thor….

Here you are

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s