(CHAPTERED – CHAPTER 2) HOLIDAY HOSTAGE

hh

 

Judul : Holiday hostage // Genre  : Romance, life // Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Bae Suzy // Rating : PG-15 // Author : Jichan

–chapter 2–

 

Pagi yang sangat cerah. Hari kedua Jiyeon dirumah ini dan ia telat bangun. Apa setelah ini ia akan di cap sebagai anak pemalas? Entahlah, itu sudah terlanjur. Dan saat ia keluar dari kamarnya, rumah nampak sangat sepi. Jiyeon berjalan ke arah dapur karena ia mulai lapar. Tidak ada apapun. Mengherankan, mengapa rumah sebesar ini tapi tak ada makanan yang bisa di makan?

“Eomma dan Appa pergi keluar kota untuk mendatangi acara selama seminggu..” ucap Krystal sambil memakan pizza ditangannya.

“Krystal-ah.. apa ada makanan? Atau haruskah aku pergi keluar?” tanyanya sedikit ragu. Krystal memandang ke arah dapur sejenak sebelum akhirnya berkata, “Eonni mau pizza? Kalau tidak lebih baik eonni pergi ke minimarket dekat rumah. Hmm, kira-kira 20 meter ke kiri..”

“Ah, aku mau ke minimarket saja. Kau mau titip?” tanya Jiyeon. Krystal nampak berpikir sejenak. “Ya, es krim matcha..” Jiyeon hanya mengangguk. Ia lalu menyambar cardigannya dan topi hitamnya sebelum keluar.

Sesampainya di minimarket ia membeli makanan cepat saji dan memakannya disana. Lalu ia teringat sesuatu, apa ponsel Myungsoo masih ada padanya atau sudah namja itu ambil? Entahlah. Selesainya, ia pun kembali ke rumah.

Sudah siang ternyata. Lalu apa yang harus dilakukannya? Sejenak ia berpikir. ‘Haruskah aku tetap menjalankan misi jalan-jalan keliling Korea?’ Keinginannya tersebut langsung terbantahkan saat Krystal titip pesan dari eommanya.

“Eonni, kata eomma nanti sore pergi belanja bareng oppa.. ah maksudku Myungsoo Oppa. Katanya eomma mau eonni menjadi istri yang pandai memasak dan mengurus suami.” Jiyeon hampir saja membanting belanjaannya itu ke lantai, namun segera ia urungkan karena keberadaan Krystal disana.

“Eonni membeli pesananku?” tanyanya. Jiyeon mengangguk sambil menyerahkan es krim padanya. Ia tersenyum singkat, sangat singkat. Begitupula Jiyeon.

‘Lalu kapan aku boleh keluar rumah dan jalan-jalan?! Ahhh, eomma menipuku!’ omel Jiyeon dalam hatinya.

“Yya! Kim Myungsoo!” panggil seorang yeoja dari arah belakangnya. Myungsoo tahu siapa yang memanggilnya. Tanpa menunggu namja itu menyahuti, yeoja yang tadi memanggilnya segera mangaitkan lengannya ke lengan Myungsoo. Namja itu nampak biasa saja, mungkin sudah kebiasaan mereka.

“Ada apa sore-sore begini ke kantorku?” tanya namja itu tanpa menghentikan langkahnya.

“Aku kangen,” TAP. Myungsoo menghentikan langkahnya dan menengok ke arah yeoja itu.

“Arasseo, aku hanya bercanda. Keunde Oppa, semalam aku menelponmu tapi yang mengangkat seorang yeoja. Apa kau kehilangan ponselmu?” tanya yeoja yang bernama Bae Suzy itu. Myungsoo menggeleng sambil kembali melanjutkan langkahnya.

“Lalu siapa wanita itu? Apa oppa kembali dijodohkan oleh orang tua Oppa?” tanyanya dengan sedikit kesal. Myungsoo hanya menaikkan bahunya tanda tak tahu harus menjawab apa.

“Aku sudah harus pulang, sebaiknya kau juga pulang,” ucap Myungsoo saat mereka sampai di parkiran. Suzy menggeleng.

“Oppa, antarkan aku dulu belanja. Aku harus membeli beberapa kebutuhanku..”

“Aah, jadi kau menggunakanku lagi..” gumam Myungsoo santai. Suzy kemudian masuk ke dalam mobilnya.

Butuh tiga jam sampai akhirnya Myungsoo selesai menemani Suzy belanja. Dan setelah mengantarkan yeoja itu ke apartemennya, Myungsoo segera pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, ia merasakan hawa yang biasa menyelimuti rumah ini. Sepi.

“Oppa,” panggil Krystal tanpa memindahkan tatapannya dari channel televise yang tengah ia tonton. Myungsoo menhentikan langkahnya untuk kemudian duduk disamping adiknya itu.

“Wae?” tanyanya tanpa memandang Krystal. Ia ikutan melihat acara televise di depannya.

“Jiyeon eonni sedari tadi menunggumu..” katanya. Myungsoo mengangkat alisnya, tanda tak mengerti. Ia lalu memutuskan untuk bertanya langsung pada Jiyeon.

TOK TOK TOK..

Myungsoo mengetuk perlahan pintu kamar Jiyeon. Namun tak kunjung ada sahutan juga. Myungsoo pun memilih untuk mandi untuk menyegarkan otak dan tubuhnya dahulu baru bertanya pada Jiyeon.

Malam harinya Krystal mengetuk-ngetuk pintu kamar Myungsoo dan Jiyeon yang bersebelahan itu. Jiyeon dan Myungsoo kemudian keluar secara bersamaan.

“Waktunya makan malam, tadi aku pesan jajangmyeon.. eh, apa eonni suka?” tanya Krystal kemudian. Jiyeon hanya mengangguk. Kemudian mereka semua pun turun.

“Sudah oppa bilang kalau makan di ruang makan..” ucap Myungsoo. Namun Krystal tak menggubrisnya dan memilih langsung memakan jajangmyeonnya itu sambil melanjutkan acara televise yang daritadi tengah ia tonton. Jiyeon duduk disampingnya dan juga menonton televise. Dan walau Myungsoo sempat ragu, ia akhirnya duduk juga disana sambil memakan jajangmyeonnya.

“Oh ya eonni, kata eomma mulai besok eonni harus memasak..”

“UHUKK! UHUKK!” Jiyeon segera berlari ke dapur dan meneguk segelas air mineral. Myungsoo menatapnya dengan sedikit iba.

“Geuraeyo? Ah, em.. baiklah..” kata Jiyeon lemah. Ia kemudian melanjutkan makan jajangmyeonnya yang mulai terasa hambar.

Selesai makan Jiyeon berjalan ke taman belakang. Dan karena seharian ini juga Jiyeon hanya tidur dan tidur-tiduran, malam inipun matanya terbuka lebar. Ia memandang ke langit, kapan yah ia bisa kembali ke Paris? Bisakah dia?

Belum lama ia menyendiri disana, Myungsoo datang dan duduk disampingnya. Hening.

“Ku dengar tadi kau menungguku? Waeyo?” tanyanya. Jiyeon berpikir sejenak. Ah..

“Aniya. Tadi Krystal berkata kalau sore ini seharusnya kita berbelanja agar aku bisa menyiapkan makan untuk kita, eomma yang berkata begitu..” kata Jiyeon.

“Mianhae, aku tak tahu. Kalau begitu besok kau mau ke supermarket? Besok pagi biar ku antar, sekalian aku pergi ke kantor..” ujarnya. Jiyeon tersenyum sambil mengangguk.

“Oh ya, sebentar..” ucap Jiyeon seraya buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengambil ponsel Myungsoo yang masih di kamarnya.

“Err.. gomawo.. mian karena tadi pagi aku malah masih tidur bukannya mengembalikannya,” ucapnya sambil menyerahkan ponsel itu ke Myungsoo. Myungsoo menerimanya dan mengecek ponselnya itu.

“Oh ya kemarin malam ada telepon dari seorang yeoja bernama Bae Suzy. Mian aku mengangkatnya, aku tak sengaja..” katanya lagi. Myungsoo hanya mengangguk.

“Sebentar, aku juga punya sesuatu..” ucapnya. Ia lalu masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa sebuah box.

“Untukmu, katanya kemarin ponselmu ketinggalan..” katanya sambil menyerahkan sebuah box berisi ponsel terbaru. Jiyeon malah termangu sambil terus menatap box itu tanpa menggerakkan tangannya untuk menerimanya.

“Kalau tak mau ponsel ini akan berakhir di tempat sampah,” ucap Myungsoo. Jiyeon pun segera mengambilnya.

“Gomawo.. he he..”

….

Berbeda dengan pagi kemarin, saat ini Jiyeon sudah mandi, sudah wangi, sudah dandan dan bahkan sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.

“Eonni, kau membuat empat? Lain kali buat tiga saja, Siwan oppa jarang berada di rumah..” kata Krystal.

“Ah geurae? Kalau begitu ini biar—“

“Buat aku saja,” kata Krystal sambil buru-buru memasukkan roti panggang jatah Siwan ke dalam mulutnya itu. Jiyeon tertawa melihatnya.

“Yya, bisa-bisa kau tersedak. Oh, dan harusnya kau melihat ke cermin!” kata Jiyeon tiba-tiba. Ehm, sadar akan sikapnya barusan yang berbeda dengan dirinya selama beberapa hari tinggal disini, Jiyeon pun menahan tawanya. Saat tertawa tadi ia bahkan mendapat tatapan aneh dari Krystal dan Myungsoo. Sebenarnya apa anehnya sih?

“Eonni, sepertinya kau menahan sifat aslimu…” ujar Krystal kemudian. Jiyeon tersentak dan hanya berhaha hehe. Sementara itu Myungsoo mengajak Jiyeon untuk segera berangkat.

Selama di mobil Jiyeon asik membaca chat dari teman-temannya di Paris. Sebenarnya yang membuatnya geli adalah fakta bahwa ia bukannya berlibur disini, tapi justru dibuang oleh keluarganya sendiri. Miris memang. Tanpa sadar ia tertawa tidak jelas sampai keluar air matanya. Hampir menangis.

Myungsoo sempat menatap ke arahnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan olehnya. Jiyeon berdeham sedikit dan kembali menjaga imejnya.

“Sudah sampai, nanti kau mau langsung pulang ke rumah atau mau ku jemput dan ikut ke kantorku?” tanyanya. Jiyeon tampak menimang-nimang, ia sedikit bosan di rumah sepi itu, jadi ia memilih untuk ikut ke kantor Myungsoo. Dan mereka pun sampai, Myungsoo segera pergi setelah Jiyeon masuk ke dalam supermarket.

Jiyeon yang pengetahuan memasaknya masih dasar pun membeli banyak jenis sayur, buah, tepung serta daging. Tadi Myungsoo memberikan kartu atm miliknya untuk dipakai membayar belanjaan, jadi Jiyeon santai-santai saja. Toh makanannya untuk mereka juga.

Tanpa sadar, empat jam berlalu. Jiyeon yang memang hobinya berbelanja pun menganggap empat jam untuk belanja bukanlah waktu yang banyak. Ia kemudian menghubungi Myungsoo untuk menjemputnya sekarang. Jam ditangannya menujukkan pukul dua belas siang, sudah waktunya makan siang.

Tak berapa lama kemudian Myungsoo sampai. Namja itu kemudian membantu Jiyeon menaikkan belanjaannya ke bagasi mobil. Awalnya Myungsoo cukup heran dengan banyaknya jumlah bahan makanan yang ia beli.

Setelah selesai merekapun masuk ke dalam mobil dan Myungsoo mulai menjalankan mobilnya.

KRUYUUK~~~ KRUYUKKK~~

Menyadari bunyi tersebut berasal dari perutnya, Jiyeon buru-buru memalingkan wajahnya dan mengutuk dirinya. Myungsoo tersenyum kecil sebelum akhirnya berkata, “Kita makan siang dulu..”

Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah restoran yang terlihat sangat berkelas. Setelah memesan, mereka kembali diam dan berkutat dengan pikiran masing-masing.

“Keuge, Myungsoo-ssi.. apa di dekat sini ada tempat asik untuk jalan-jalan?” tanya Jiyeon. Mendengar Jiyeon mengajaknya bicara, Myungsoo kemudian menaruh ponselnya dan menatap Jiyeon.

“Ada, tempat ini dekat dengan sungai Han. Dan juga ada taman yang enak untuk duduk-duduk dan santai..” katanya.

“Jinja? Kalau begitu aku pergi kesana saja ya daripada aku mengganggumu di kantor.. he.. hee..” ucap Jiyeon kemudian. Padahal dalam hatinya ia memang sengaja kabur dari namja itu dan jalan-jalan. ‘Ah, aku sangat ingin jalan-jalan..’

Kemudian pesanan merekapun tiba. Jiyeon dan Myungsoo kembali ke kegiatan mereka masing-masing, tak ada yang mengucapkan kata-kata lagi. Myungsoo selesai lebih dahulu dibanding Jiyeon. Sementara itu saat Jiyeon iseng curi-curi pandang ke namja itu, ia malah tertawa sendiri. Myungsoo yang heran pun menatap Jiyeon bingung. Dan tanpa sadar, Jiyeon terdiam dan langsung mendekatkan wajahnya ke arah Myungsoo sambil mengambil sebutir nasi yang menempel di wajah namja itu. Sementara itu Myungsoo membelalakkan matanya, terkejut dengan wajah Jiyeon yang mendekat ke arahnya.

DEG.

Jiyeon baru sadar kini jarak wajahnya dan wajah Myungsoo tinggal beberapa senti lagi. Dengan terburu-buru ia memundurkan tubuhnya dan kembali duduk di kursinya.

“Ah em.. tadi ada nasi di pipimu,” kata Jiyeon sambil menunjukkan sebutir nasi yang baru saja ia ambil dipipi namja itu. Myungsoo masih menatapnya intens. Jiyeon sendiri nampak salah tingkah dan malu terhadap apa yang baru saja ia lakukan.

“Ha ha, sepertinya lambungku sudah mulai bekerja keras. Panas.. Aku berkeringat.. Ha .. ha..” katanya canggung. Dan seperti disambar kilat, Myungsoo akhirnya tersadar. Ia menatap Jiyeon sambil tersenyum, kali ini lebih lebar daripada biasanya.

Dan sementara Myungsoo menyadari sikap salah tingkah Jiyeon serta pipi yeoja itu yang kini memerah, Jiyeon sibuk mengibas-ngibaskan tangannya karena panas.

Jiyeon;s POV

Setelah Kim Myungsoo dan mobilnya menghilang dari jangkauan mataku, aku segera pergi ke pinggir sungai Han. Ternyata cukup ramai juga. Siang ini sangat terik. Hmmh, aku lupa menanyakan Myungsoo nanti pulang jam berapa. Ya sudahlah, biar saja ia yang mengabari ku jika sudah selesai.

Aku mendudukkan diriku ditempat yang cukup teduh sembari menikmati pemandangan dari sini. Lalu aku segera mengeluarkan ponselku dan berfoto ria sambil menunjukkan bahwa aku dipinggir sungai Han.

TULALIT TULALIT *anggap aja bunyi tukang es krim

Mendengar suara abang tukang es krim, aku langsung mencari sumber suara ini. Ternyata disana! Sedang dikerubungi banyak anak-anak. Aku segera kesana dan ikut berebut bersama anak-anak lainnya. Biarlah orang pikir apa, aku sudah tidak tahan karena teriknya matahari disini. Setelah mendapatkan dan membayarnya, aku langsung berlari ke tempat meneduhku tadi.

Sial. Tempat itu malah diduduki oleh sepasang remaja bau kencur yang asik pacaran. Aku menghela nafas berat. Mengapa cobaan ini datang beruntun padaku?! Oke, aku mulai lebay.

Aku memilih berjalan ke taman yang Myungsoo maksudkan tadi. Ternyata taman ini tidak seramai sungai Han. Aku memilih untuk duduk disalah satu ayunan yang ada disana dan mengayun-ayunkannya perlahan. Lama kelamaan justru membuatku mengantuk.

Tapi aku tak mau tertidur disembarang tempat seperti ini. Aku pun mulai berpikir, setidaknya ada yang harus otakku lakukan jika aku mengantuk. Hmm..

Ah, aku jadi terbayang kejadian tadi. Hhhh, kenapa aku seceroboh itu. Bisa-bisanya aku mendekatkan wajahku ke wajahnya?! AHHH.. Sepertinya aku sudah gila. Gila. Gila. Gila.

Aku mengantuk…

Pandanganku kabur..

BRAK..

Bodoh. Aku hampir saja tertidur dan tanpa sadar menyandar ke belakang yang padahal tidak ada sandarannya itu. Jadilah rambutku terkena banyak pasir karena aku jatuh terjerembab ke belakang.

“Eomma eomma! Ada orang gila!” teriak seorang namja kecil dari arah luar taman sembari menarik-narik baju orang yang dipanggilnya sebagai ‘eomma’. Aku segera membenarkan posisiku dan tersenyum ke arah mereka.

Sial. Mereka justru memandangku aneh sebelum pergi meninggalkan orang yang mereka anggap gila ini. Rambut panjangku mulai acak-acakan bercampur dengan pasir. Aku pun pindah ke sebuah bangku yang berada dibawah sebuah pohon rindang.

Setelah itu ku keluarkan sisir saktiku sambil menyisirnya perlahan. Namun sialnya pasir-pasir dirambutku tak mau pergi begitu saja. Biarlah, nanti aku keramas saja.

Author’s POV

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah waktunya pulang bagi para pekerja, begitu pula Myungsoo. Myungsoo berulang kali menelpon Jiyeon, namun yeoja itu tak kunjung menjawabnya. Jangan-jangan sesuatu yang buruk telah terjadi padanya? Pikir Myungsoo. Namun namja itu segera menepis pikiran seperti itu. Ia lalu buru-buru mengambil tas, ponsel, serta jasnya.

Myungsoo sudah mencari sepanjang pinging sungai Han yang mungkin Jiyeon raih dengan berjalan kaki, namun tak kunjung ketemu. Ia lalu menyerah dan pergi ke taman.

Nafasnya yang terengah-engah kini nampak melengos lega. Namja itu melihat Jiyeon tengah tertidur disalah satu bangku taman dengan rambut panjang yang hampir menutupi wajah cantiknya. Namun bukannya membangunkan, Myungsoo justru duduk disamping Jiyeon.

CTAK

Tak sengaja kepala Jiyeon menabrak pinggiran bangku saat ia tak mampu menahan beban kepalanya sendiri, Jiyeon terbangun sambil meringis, “Appo..” ia mengusap-usap kepalanya itu yang baru saja menjadi korban.

Ia mengedip-ngedipkan matanya berusaha bangun dan sadar. Ia melihat ke sekelilingnya. ‘Ah, masih ditaman..’ pikirnya. Kemudian matanya menangkap sebuah objek namja tampan yang juga tengah duduk disampingnya. Kim Myungsoo. Namja itu tengah asik dengan ponselnya sampai-sampai tak sadar Jiyeon tengah memperhatikannya.

“Sudah bangun?” tanya Myungsoo seraya memasukkan ponselnya ke saku jasnya.

“Ah, ne.. Kenapa tidak membangunkanku?” tanyanya.

“Kau terlihat lelah. Kajja pulang,” ajak Myungsoo. Ia berjalan mendahului Jiyeon ke mobilnya. Jiyeonpun mengikutinya dari belakang.

Sesampainya di rumah, Krystal ter-wow-kan dengan banyaknya belanjaan Jiyeon.

“Eonni, kau mau masak untuk berapa orang…” gumam Krystal sembari membantu Jiyeon dan Myungsoo membawa kantong belanjaannya.

“Eonni biar aku saja yang menatanya. Eonni masak saja,” kata Krystal lagi.

“Eoh,” jawab Jiyeon sambil mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Ia menimang-nimang apa yang harus ia masak. Ia kemudian browsing dengan kalimat ‘makanan yang mudah dibuat tapi enak’. Dan jadilah ia memilih untuk menggoreng ikan sambil membuat tumis sayuran.

Sementara itu Myungsoo sudah pergi ke kamarnya duluan. Meninggalkan Jiyeon dan Krystal di dapur. Jiyeon kemudian bertanya pada Krystal, “Kau ada alergi?” Dan Krystal hanya menggeleng. “Kalau Oppa mu?” tanyanya lagi. Krystal menggeleng lagi. Jiyeon pun mulai memasak.

Tak lama kemudian Myungsoo keluar dengan sudah segarnya karena baru saja mandi. Rambutnya masih basah dan kulitnya nampak sangat segar. Ia menggunakan celana pendek dengan kaos lengan panjang berwarna biru.

“Eonni,, kau lupa memasak nasi..” kata Krystal tiba-tiba saat Jiyeon masih asik memasak sesuatu petunjuk di ponselnya. Ia nampak sedikit panik, bagaimana mungkin ia bisa melupakan komponen makan malam paling utama.

“Biar aku saja,” ucap Myungsoo sambil mengambil tempat untuk beras dan mencucinya di wastafel. Tanpa sadar Jiyeon justru sibuk memandangi Myungsoo.

“Eonni, jangan melihat oppa terus.. ikannya nanti gosong..” bisik Krystal. ‘Sial.’ Gumam Jiyeon dalam hati. Ia kemudian mengutuk dirinya sendiri sembari membalik ikan yang tengah ia goreng.

Dan beginilah, lauk mereka sudah matang tapi nasinya belum. Mereka bertiga duduk di ruang makan sambil sibuk dengan ponsel masing-masing. Krystal yang sibuk dengan gamesnya, Jiyeon  yang sibuk dengan chat dari teman-temannya yang berusaha menghiburnya, serta Myungsoo yang sibuk dengan emailnya, biasa, urusan pekerjaan.

CTAK.

Nasinya matang!

Jiyeon segera mengambilkan nasi untuknya, Krystal, serta Myungsoo. Merekapun kemudian makan malam.

“Keunde eonni, eomma tak akan suka jika eonni hanya memasak dua lauk untuk satu kali sajian makanan…” kata Krystal. Jiyeon mendongak dan menatapnya dengan tatapan ‘hah?’ Tapi cepat-cepat ia ganti dengan senyuman.

“Aku tahu itu berat, eon. Sabar ya..” kata Krystal kemudian. Yah, walaupun sudah diberi semangat, tapi ia merasa makin terpuruk.

“Oh ya, Oppa itu pintar memasak loh. Makanya eomma mau istrinya lebih pintar memasak agar bukan Oppa yang bertugas memasak dalam rumah tangga. Habisnya mantan yeojachingu oppa pasti selalu minta dimasakkan oleh oppa, tapi habis itu oppa dicampak—“

“Ha ha, Krystal, kau bicara apa sih..” ucap Myungsoo memotong ucapan adiknya itu. Jiyeon tertawa mendengarnya.

“Oppa, kau harus mengajarkan eonni memasak…” ucap Krystal sambil menunjukkan ekspresi keasinan sehabis memakan ikan gorengnya. Jiyeon menatapnya iba.

“Asin ya? Padahal aku sudah mengikuti resep di internet..” kata Jiyeon sambil menunjukkan ekspresi sedih.

“Ini tidak seasin itu Krystal-ah,” ucap Myungsoo sambil memakan ikan goreng itu dengan lahap. Myungsoo kemudian menatap Krystal dengan pandangan seolah berkata, ‘sopanlah sedikit’.

Jiyeon menghela nafasnya. ‘Maksud perkataannya itu hanya sekedar menyenangkanku atau ia memang tak mau mengajarkanku memasak, sih?’ pikir Jiyeon.

Hari Sabtu ini Myungsoo libur kerja sehingga pagi-pagi seperti ini ia masih tidur di kamarnya. Sementara itu Jiyeon sedang asik menyiram tanaman di taman belakang sembari mendengarkan lagu lewat headsetnya. Lain halnya dengan Krystal sedang berada diruang studio. Jujur saja, Jiyeon belum pernah masuk ke dalam ruangan-ruangan khusus di rumah tersebut. Lagipula tak ada yang mengajaknya.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Myungsoo bangun dan segera mandi. Ia kemudian memakan makanan yang sudah Jiyeon buat. Setelah itu ia berjalan ke taman belakang, tempatnya biasa bersantai.

“Eoh, aku sangat bosan. Mungkin nanti sore aku jalan-jalan sendirian..” ucap Jiyeon ditelepon. Ia tak menyadari kedatangan Myungsoo.

“Hmm.. bukannya itu terlalu jauh ya dari sini?” ucap Jiyeon. Bukannya menyingkir, Myungsoo justru duduk santai di kursi yang Jiyeon belakangi.

“Apa? Tidak tidak. Aku sudah pernah mengajaknya, tapi ia menolakku mentah-mentah… Ya sudahlah nanti biar aku tanya saja yang dekat.. Eoh.. bye..” TUT. Jiyeon memutus teleponnya dan kembali memasukkan ke dalam kantung bajunya.

Karena keasikan Jiyeon malah nyanyi-nyanyi sendiri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Myungsoo masih asik membaca Koran paginya.

“OMO!” teriak Jiyeon saat ia berbalik dan mendapati keberadaan Myungsoo.

“Jiyeon-ah..” panggil Myungsoo tanpa mengalihkan pandangannya dari korannya.

“Err.. bagaimana kalau nanti sore kita ke namsan tower?” Mendengar Myungsoo mengatakan hal yang sangat membuatnya bahagia, tanpa sadar Jiyeon langsung berpose ‘assa’ masih sambil memegang selang air.

“Jinja?” hanya itu yang dapat Jiyeon katakan. Ah, betapa senangnya ia. Ia lalu ikut duduk disamping Myungsoo dan terus tersenyum sambil menggoyang-goyangkan kakinya.

“Keunde, kita berangkat sore saja.. Namsan lumayan jauh..” kata Myungsoo. Jiyeon mengangguk bahagia. Tapi tunggu, apa Myungsoo sedang mengajaknya kencan? Atau Myungsoo hanya berbaik hati padanya karena merasa kasihan? Entahlah. Yang penting Jiyeon bahagia bisa jalan-jalan dengan ditemani orang korea.

Jiyeon’s POV

Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, sementara jam empat kami akan berangkat. Aku sudah mandi dan kini tengah bingung harus memakai pakaian apa. Malam hari kira-kira akan dingin, jadi aku butuh jaket. Hehe kalau aku tak membawa jaket Myungsoo pasti akan meminjamkan jaketnya untukku. Dia kan memang baik. Kekeke, tapi aku tak sejahat itu.

Ah bahagianya bisa pergi berdua dengan namja itu. Tanpa sadar senyum merekah diwajahku. Kira-kira apa saja yang akan terjadi nanti ya. Wah, aku jadi tak sabar.

Tapi tunggu, apa aku mulai menyukai namja itu? Gila. Aku sudah gila. Aku kan cuma tahanan yang disuruh melahirkan dua cucu! Sadarlah Park Jiyeon!

Omo. Gaun ini sepertinya sangat cocok dipakai malam hari. Aku mengambil sepotong gaun berwarna soft pink dengan bahannya yang lemas. Aku memakainya dan melihat pantulan diriku di cermin. Cantik. Keunde, apa ini tidak berlebihan?

TOK TOK TOK

“Jiyeon-ah.” Sial, sudah tidak ada waktu. Aku pun segera menyambar jaket serta tasku dan keluar. Aku menatapnya sambil tersenyum, dan ia membalas senyumanku barusan! Gila, sejak kapan dia jadi sering tersenyum?

Myungsoo berjalan mendahuluiku ke depan rumah, ia lalu masuk ke mobilnya. Aku pun segera masuk dan duduk di kursi depan.

“Berangkat!” teriak Krystal dari arah belakang. Mwo? Jadi.. ini bukan kencan..

Aku menatap Krystal heran, sementara Krystal kembali memainkan ponselnya. Hmhh, sepertinya harapanku terlalu tinggi. Ya sudahlah.

Dan tanpa sadar aku memasang wajah kecewa. Aku tak tahu Myungsoo menyadarinya atau tidak, tapi ku harap tidak. Aku memalingkan wajahku dan hanya menatap bangunan disamping sepanjang perjalanan.

Aku mulai bosan. Aku mengambil ponselku dan segera membuka grup chat ku.

Jiyeon-ah, bagaimana kencanmu? – Mina

Kencan apanya, kita pergi bertiga tahu. – Aku

Mwo? Siapa pengganggu itu? – Minah

Krystal, adiknya – Aku

Aish, inilah alasan aku lebih menyukai namja yang anak satu-satunya – Minah

Itu kan karena kau ingin uangnya – Aku

Lagipula siapa yang bilang kami akan kencan – Aku

Kau kan bilang ‘Myungsoo mengajakku jalan-jalan malam ini.’ Siapa juga yang tak salah sangka bahwa kalian akan pergi kencan. – Minah

Pasti kau kecewa – Mina

Kecewa apanya – Aku

Ugh, menyebalkan teman-temanku ini. Aku kemudian memasukkan ponselku ke dalam tasku lagi. Aku memandang sebentar ke arah Myungsoo sebelum akhirnya memandang langit yang ternyata sudah mulai gelap.

“Oh ya oppa, aku lupa bilang. Tadi Suzy eonni menelponku katanya mau ke rumah, tapi ku bilang kita mau pergi ke Namsan Tower dan Suzy eonni bilang nanti akan menyusul kita kesana,” ucap Krystal. Mwo? Suzy? Bae Suzy itu? Tch, apa dia kekasih gelapnya Myungsoo? Ah tidak, Krystal saja mengenalnya. Lalu apa ia mantan yeojachingu Myungsoo? Atau sekedar sahabat? Ah molla.

“Geurae? Kalau begitu bilang padanya kalau sudah sampai kabari kita,” kata Myungsoo pada Krystal. Hem hem hem…

Tak lama kemudian kamipun sampai. Huh, Namsan tower sangat ramai. Aku mengambil jaket dan tasku lalu turun dari mobil. Ku akui, aku suka Namsan Tower.

“Oppa, katanya Suzy eonni sudah disini sedari tadi. Hmm.. ah itu dia!” teriak Krystal sambil berlari ke arah yeoja cantik yang ku tebak bernama Bae Suzy. Myungsoo kemudian menyusul Krystal untuk ke Suzy. Kenapa aku jadi merasa ditinggal? Ah..

“Jiyeon-ah!” panggil Myungsoo. Aku kemudian menengok ke arahnya, ia menyuruhkan kesana. Baiklah. Aku mendekat ke arah mereka. Yeoja itu tersenyum melihatku.

“Jiyeon, ini Suzy. Suzy, ini Jiyeon..” kata Myungsoo memperkenalkan kami. Aku hanya tersenyum menatapnya, begitupun yeoja itu.

“Assa assa! Rasanya sudah lama sekali kita tidak kemari, iya kan?!” teriak Suzy antusias. Ia lalu berjalan mendahului kami, sementara Krystal dan Myungsoo mengikuti dibelakangnya. Dan aku berjalan paling belakang. Ah, aku merasa jadi obat nyamuk.

“Ayo kita berfoto! Oppa, kau bawa kameranya kan?” tanya Krystal pada Myungsoo. Myungsoo sepertinya baru sadar bahwa kameranya tertinggal di mobil.

“Biar aku ambilkan,” ucapku pada Myungsoo. Myungsoo kemudian menyerahkan kunci mobilnya padaku. Semoga perjalananku mengambil kamera menguras banyak waktu, aku malas melihat mereka. Hmmh..

Itu dia mobilnya. Ternyata dekat. Heuh. Ku ambil kamera yang ada dikursi belakang. Iseng-iseng aku langsung mengeluarkan kamera itu dari tempatnya agar aku punya alasan kenapa lama sampai sana. Hehe, lebih baik aku motret motret sendiri dulu. Kekeke..

Apa itu?

Beberapa lembar foto Myungsoo bersama yeoja yang berbeda. Myungsoo nampak tak senyum sementara yeoja disampingnya nampak tersenyum bahagia. Siapa mereka? Mengapa ia berfoto dengan banyak yeoja berbeda? Apa memang ia memiliki banyak yeojachingu sebenarnya? Apa-apaan ini. Ugh.

Aku memilih untuk mengabaikannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas kamera sementara aku memotret pemandangan sepanjang jalanku menuju tempat mereka berada. Ku lihat mereka tengah asik berbincang, bahkan Myungsoo tertawa.

KLIK.

Aku memotretnya. Lalu mereka menyadari keberadaanku dan si Suzy itu dengan seenaknya malah menyuruhku untuk memotret mereka bertiga. Sial.

KLIK.

KLIK.

KLIK.

Ugh, lalu aku kapan?!

“Jiyeon-ah, kau mau foto? Biar aku fotokan..” ucap Myungsoo sambil mengambil kameranay dari tanganku. Ah, namja itu begitu pengertian.

“Mau kita temani?” tanya Suzy dan Krystal padaku. Aku menggeleng. Siapa juga mau berfoto dengan mereka. Humph.

“Oppa! Sini biar gantian aku yang memotret. Oppa sana foto sama Suzy eonni dan Jiyeon eonni,” ucap Krystal. Myungsoo kemudian berjalan kearah kami dan berdiri ditengah, antara aku dan Suzy.

Ah aku masih penasaran dengan foto-foto tadi. Disana Myungsoo kan tidak pernah senyum. Lalu apa diantara kami dia akan senyum? Tanpa sadar aku malah memandangnya.

KLIK.

Aku mengerjapkan mataku begitu sadar bahwa kami telah difoto. Sial. Tapi aku jadi tahu, aku melihatnya dengan jelas. Myungsoo, namja itu, tersenyum. Untuk siapakah senyumnya? Untuk Suzy? Atau aku? Ah, aku tak mau terlalu memikirkannya. Sudahlah Jiyeon, toh kau hanya disini sampai keluargamu bisa menebusmu.

Ku lihat Suzy kemudian melingkarkan lengannya ke lengan Myungsoo dan berpose genit ke Myungsoo. Hmh, aku sedari tadi berusaha menjaga jarak dari namja ini. Tapi si Suzy malah nempel-nempel begitu.

“Eonni, kurang nempel..” kata Krystal tiba-tiba. Aku terkejut mendengarnya.

“Kurang? Kalau segini?” tanya Suzy menempelkan tubuhnya lebih erat ke Myungsoo.

“Bukan, Jiyeon eonni maksudku,” katanya. Lalu Suzy dan Myungsoo yang seperti baru menyadari kehadiranku pun merenggangkan jarak antar mereka. Ehm, lebih tepatnya Myungsoo yang melepas lengan Suzy. Ia lalu menarikku untuk mendekat. DEG.

Lalu Myungsoo dan Suzy kembali menatap kearah kamera sambil memasang muka senyum, begitupula aku.

Author’s POV

Mereka berempat nampak sangat asik jalan-jalan dan berfoto disana. Ah, sebenarnya Myungsoo yang memegang kameranya sejak tadi. Ia lebih memilih jadi tukang potret daripada model katanya.

“Ah, aku ingin ke toilet. Kalian ada yang mau ke toilet?” tanya Suzy pada Jiyeon dan Krystal. Mereka sama-sama menggeleng. “Kalau begitu temani aku ke toilet, Jiyeon-ah,” ucap Suzy lagi sambil langsung menarik Jiyeon ke toilet.

Jiyeon menunggu Suzy sambil membasuh kedua tangannya dan mengelap minyak diwajahnya dengan kertas minyak.

“Jiyeon-ah,” panggil Suzy dari arah belakang. Jiyeon menatap yeoja itu dari pantulan cermin didepannya. Suzy kemudian berdiri disampingnya dan ikut membasuh tangannya.

“Jadi, aku sudah mendengarnya. Keunde, kau ini yeoja kesekian yang telah dijodohkan dengan Myungsoo oleh keluarganya. Kau juga hanya dimanfaatkan keluargamu untuk menjadi jaminan hutang keluarga mu kan? Jadi, pergilah diam-diam. Jangan membuat masalah,” ucap Suzy dengan tajam, Mendengar hal itu Jiyeon membalas tatapan tajamnya dengan tatapan menusuk.

“Kau pikir aku tak tahu?” kata Jiyeon dengan santai.

“Keunde, apa hubunganmu dengan Myungsoo? Apa kau lintah darat yang selalu menempel padanya?” tanya Jiyeon sinis.

“Mwo? Lintah darat?! Yya! Kau itu yang sebenarnya lintah darat! Hanya mementingkan kepentingan sendiri dan kemudian pergi begitu saja! Dasar kau parasit!” bentak Suzy. Jiyeon terkejut dengan ucapan Suzy barusan. Suzy kemudian pergi meninggalkannya.

Jiyeon menatap bayangannya di cermin dengan nanar. “Geurae, aku lah lintah darat disini. Bahkan bisa dibilang keluarga ku juga berperan jahat disini. Kami hanya memanfaatkan satu sama lain,” gumamnya.

Dan setelah puas bermain dan berfoto, merekapun memutuskan untuk pulang. Jiyeon sebenarnya masih kesal dengan Suzy, juga Myungsoo. Entah mengapa ia juga jadi kesal pada namja itu. Myungsoo memperhatikan sikap Jiyeon itu, sepertinya ia tahu mengapa Jiyeon bersikap seperti ini. Ia kemudian mulai menjalankan mobilnya.

Butuh sekitar satu setengah jam sampai mereka tiba di sebuah restoran. Setelah memarkir mobilnya, Myungsoo menyuruh Krystal untuk masuk duluan dan memesan makanan. Sementara itu Myungsoo nampak bimbang, haruskah ia membangunkan Jiyeon?

“Jiyeon-ah..” panggil Myungsoo sambil menggoyang-goyangkan bahunya perlahan. Tak ada tanda-tanda Jiyeon akan bangun. Ia lalu memanggilnya lagi dengan nada yang lebih keras, “Jiyeon.. Park Jiyeon..”

“Uhmm..” Jiyeon langsung tersadar dan menatap sekelilingnya dengan pandangan yang belum fokus.

“Kita makan malam dulu,” kata Myungsoo kemudian. Jiyeon pun mengangguk. Myungsoo lalu keluar dari mobilnya dan menunggu Jiyeon dari luar. Jiyeon hendak melepas sabuk pengamannya, namun sepertinya sabuknya itu macet. Ia sudah berusaha membukanya tapi tetap tak bisa. Myungsoo merasa ada yang salah karena Jiyeon tak kunjung turun dari mobilnya. Ia kemudian segera menghampiri Jiyeon disisi pintunya. Dibukakannya pintu mobil yeoja itu.

“Kau.. tidak menungguku untuk membukakan pintunya kan?” tanya Myungsoo dengan sedikit ragu. Jiyeon menatapnya kesal.

“Tentu saja tidak,” jawabnya. Ia lalu kembali berusaha mencopot sabuk pengamannya, tapi gagal lagi.

“Ahh, sepertinya itu macet. Biar aku lepaskan..” kata Myungsoo. Jiyeon mengangguk dan membiarkan Myungsoo mendekat. Posisi mereka sangat tidak nyaman. Kini di depan Jiyeon sebagian tubuh Myungsoo berada diatasnya. Saat itu Jiyeon menahan nafasnya.

CKLEK, ZZT.

Akhirnya terlepas. Myungsoo memundurkan tubuhnya sedikit, namun bukannya keluar dari mobil, namja itu justru menatap wajah Jiyeon secara intens. Dan ini membuat Jiyeon mematung dan membalas tatapan namja itu. Myungsoo kemudian memajukan wajahnya ke wajah Jiyeon. Jiyeon membelalakkan matanya sementara Myungsoo terus memajukan wajahnya.

To be contiunued

Advertisements

21 responses to “(CHAPTERED – CHAPTER 2) HOLIDAY HOSTAGE

  1. Jiyi ada rasa nih ke myung,, tp gx tw myung ada rasa juga gx ma Jiyi.. agak susah di tebak sih.
    Suzy rese weh. Sok iya banget -_-
    Myung mau apa?

Here you are

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s